Sabtu, 02 April 2022

Mujahadah dan Istiqomah

 


Kehidupan Nabi Muhammad saw. di Mekah merupakan contoh yang luar biasa. Di satu sisi beliau menghabiskan seluruh hidup beliau dalam berbagai kesulitan. Beliau seakan-akan sendirian dalam perang Uhud. Sebagai rasulullah (utusan Allah), beliau menunjukkan tingkat keberanian dan keteguhan yang sangat tinggi dalam pertempuran.


Aku katakan yang sebenarnya, selama manusia tidak memasuki lorong (keberanian dan istiqomah) ini, dia tidak akan mendapatkan kesenangan atau kenikmatan.

Inilah kenikmatan yang setiap orang beriman dipanggil oleh Allah Ta'ala untuk menuju kepadanya. Orang merasakan kenikmatan itu sama seperti merasakan kenikmatan lainnya. Orang yang mencarinya tentu bisa menemukannya. Jika ada kelalaian dari sini, maka tidak akan ada pergerakan dari sana. Jika ada perjuangan dari sini, maka akan ada pergerakan juga dari sana.


Perjuangan (mujahadah) adalah sesuatu yang tanpa ia manusia tidak bisa meningkat dan tidak bisa mencapai posisi yang tinggi. 

Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Syarif:


وَالَّذِيْنَ جَاھَدُوْا فِيْنَا لَنَھْدِيَنَّھُمْ سُبُلَنَا


"Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, Kami pasti akan memimpin mereka di jalan Kami."

(Al-'Ankabut, 29:69).


Karena itu, berjuanglah dan berjuanglah di jalan Allah, agar jalan Allah terbuka untukmu. Dengan berjalan di jalan itu kamu bisa memperoleh kenikmatan dari Allah. Pada posisi dan keadaan itu, penderitaan dan kesulitan tidak menjadi masalah lagi.


Inilah posisi yang disebut syahiid dalam istilah Quran Syarif. Orang-orang memahami makna syahiid hanyalah orang yang mati terbunuh dalam berperang dengan orang kafir atau non-muslim. Jika syahiid hanya dimaknai seperti itu, maka para penentanng memiliki banyak peluang untuk mengecam. Mungkin inilah sebabnya orang Kristen dan orang Arya menganggap  Islam sebagai agama yang disiarkan dengan pedang.


Syahiid bukan hanya berarti orang yang mati karena berperang dengan non-muslim. Pengertian seperti itu bisa mencemarkan nama baik Islam. Kita masih melihat kebanyakan orang Islam jahil di perbatasan menganggap bahwa membunuh orang Inggris yang tidak bersalah sebagai perbuatan berpahala. Orang-orang jahil itu tidak tahu bahwa itu bukan jihad tetapi pembunuhan orang yang tidak bersalah.


Tujuan Islam bukanlah menimbulkan kerusakan dan kekacauan. Sebaliknya, tujuan Islam adalah mewujudkan kedamaian dan keselarasan.


Orang yang keberatan dengan perang dalam Islam akan terkejut melihat ada beberapa peraturan yang berlaku, seperti anak-anak, orang tua dan perempuan tidak boleh dibunuh. Orang yang membayar jizyah dibebaskan. Perang itu berdasar pada  prinsip pertahanan.


Syahiid artinya orang beriman yang memperoleh anugerah istiqomah khusus dari Allah Ta'ala. Dia dengan senang hati siap menanggung setiap penderitaan dan kesulitan di jalan Allah.

(Disarikan dari Malfuzat Ahmadiyyah, jld.1, hlm. 335-337)

Rabu, 02 Maret 2022

Hubungan Jasmani dan Hubungan Rohani

 


Ada dua macam hubungan di dunia. Pertama, hubungan jasmani, seperti hubungan dengan orang tua (ibu dan ayah), hubungan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan dsb. Kedua, hubungan ruhani dan keagamaan. Hubungan macam kedua ini, jika sempurna, maka akan lebih unggul daripada semua macam hubungan lainnya. Seseorang akan mencapai kesempurnaan hubungan rohani ini, bila dia berada dalam kebersamaan atau persahabatan hingga waktu yang lama. Lihatlah jamaah (kumpulan) para sahabat yang hidup bersama Rasulullah Muhammad saw. Hubungan rohani mereka dengan Rasulullah Muhammad saw. mencapai kesempurnaan, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tanah air mereka, tidak peduli dengan harta jekayaan mereka, dan tidak peduli dengan kerabat mereka. Bahkan jika perlu, mereka seperti domba yang mempertaruhkan kepala mereka di jalan Allah.

Bagaimana mereka mendapatkan kekuatan dan daya tahan untuk menanggung kesulitan dan penderitaan yang menimpa mereka? Rahasianya adalah hubungan mereka dengan Rasulullah Muhammad saw. sangat erat dan dekat. Mereka telah memahami kebenaran yang dibawa oleh beliau. Kemudian, di mata mereka dunia dan segala isinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjumpaan dengan Allah Ta'ala.


Ingatlah, ketika kebenaran mempunyai pengaruh penuh, maka ia menjadi sebuah cahaya yang menjadi penunjuk jalan bagi orang-orang yang jatuh dalam kegelapan dan menyelamatkan mereka dalam setiap kesulitan.


Serangan pribadi yang dilakukan oleh orang-orang jahat dan kurang pengetahuan, yang dilakukan karena kebencian dan kedengkian, tidak mampu bersaing dengan kebenaran. Bahkan pengaruhnya pada mereka, mereka tidak bisa memahami kebenaran dan kebenaran itu tidak bisa menerangi hati mereka.


Memang benar, manusia dalam keadaan hampir mati ketika dia tidak memahami kebenaran. Begitu dia memahami kebenaran itu, dia merasakan kesegaran dan kegembiraan serta menuju ke cahaya. Bahkan ketika dia paham sepenuhnya, maka tidak ada kegelapan menyentuhnya. Kegelapan melahirkan kegelapan. Cahaya batin membawa cahaya lain. Itulah sebabnya, kegelapan dimisalkan dengan setan, sedangkan cahaya semisal Roh Kudus. Dengan demikian, di tempat cahaya pengetahuan dan keyakinan didirikan (diadakan), di sana tidak ada kegelapan.

(Malfuzat Amadiyyah, jld. 1, hlm. 277-278).

Pengertian _Syahiid_ dan _Shoolih_

 


_Syahiid_ (orang setia), jamaknya _syuhada_, termasuk orang yang berada pada posisi ketiga dari orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah.

Orang awam (umum) memaknai _syahiid_ hanya berarti orang yang mati terbunuh dalam pertempuran, atau orang yang mati tenggelam di sungai, atau orang yang mati karena wabah dsb.

Namun aku katakan bahwa membatasi pengertian _syahiid_ seperti itu dan puas dengan itu, hal itu jauh dari kemuliaan orang beriman.


_Syahiid_ sebenarnya orang yang mendapatkan kekuatan istiqomah dan ketenangan hati dari Allah Ta'ala. Tidak ada goncangan dan malapetaka yang dapat menggoyahkannya. Dia tahan hidup di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan. Bahkan jika dia harus memberikan hidupnya demi Allah Ta'ala semata, dia memiliki kegigihan dan kesetiaan yang luar biasa. Dia tunduk kepada-Nya tanpa ada rasa sedih dan menyesal. Dia ingin memperoleh kehidupan berkali-kali dan memanfaatkannya di jalan Allah. Ada kesenangan dan ketenangan di dalam jiwanya, sehingga setiap pedang yang ditimpakan pada tubuhnya dan setiap pukulan yang dilancarkan padanya, semua itu memberinya kehidupan baru, kegembiraan dan kesegaran baru. Inilah arti _syahiid_.


Kata _syahiid_ bisa juga berasal dari kata _syahd_ (madu). 

_Syahiid_ yaitu orang yang siap bertahan, siap menanggung ibadah yang sulit dan menanggung setiap kepahitan di jalan Allah. Dia seperti madu yang memiliki rasa manis. Sebagaimana madu di dalamnya ada obat bagi manusia (16:69). Begitu pula pada _syahiid_ juga ada obat penawar. Orang yang bersahabat dengannya bisa selamat dari banyak penyakit.


Selanjutnya, _syahiid_ juga merupakan sebutan posisi atau keadaan, manusia (seolah-olah) melihat Allah dalam setiap perbuatannya, atau sekurang-kurangnya dia yakin bahwa Allah melihatnya. _Syahiid_ disebut juga _ihsan_.


_Shoolihiin_ (para orang saleh), termasuk orang-orang yang berada pada posisi keempat.

_Shoolihiin_ sebagai orang-orang yang telah terbersihkan dari hal-hal buruk dan tak berguna. Hati mereka sudah bersih.


Sudah menjadi kelaziman, selama benda-benda kotor tidak dijauhkan dan kesehatan masih buruk, maka rasa enak pun terasa pahit di lidah. Ketika badan dalam keadaan baik dan benar-benar sehat, maka segala sesuatu terasa enak dan nikmat.

Demikian pula tatkala manusia terlibat dalam kotoran dosa, keadaan ruh (jiwa) memburuk, kemudian kekuatan ruhaninya mulai melemah, maka dalam beribadah pun tidak ada selera dan kenikmatan baginya. Ada kebingungan dan kecemasan dalam batin.

Tetapi ketika hal-hal buruk yang terjadi karena kehidupan berdosa itu mulai terhapuskan karena pertobatan yang sungguh-sungguh, maka kebingungan dan keresahan dalam jiwa itu  mulai berkurang. Bahkan akhirnya ditemukan kedamaian dan kesenangan dalam hati.


Semula orang merasa mudah dan nyaman dalam melangkah ke arah dosa, dan menemukan kegembiraan dalam perbuatan yang dikendalikan oleh hawa nafsu. Kemudian setelah mencapai posisi sebagai orang saleh, dia menganggap hal itu menjadi penyebab penderitaan dan kesedihan, serta menimbulkan goncangan pada ruh (jiwa). Jika orang membayangkan kehidupan yang gelap itu, kemudian dalam ibadah mulai ada kegairahan, semangat yang meluap-luap, kesukaan dan kenikmatan, itu berarti kekuatan ruhaninya yang telah melemah karena kehidupan yang penuh dosa, mulai tumbuh lagi dan berkembang,  serta kekuatan akhlaknya pun muncul.

(Disarikan dari Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 1, hlm. 217-218).

Pengaruh Kedekatan dengan Allah dan Ketulusan

 


Para nabi sebagai pemimpin dan yang berada pada posisi pertama dari semua kelompok orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. Keunggulan terbesar para nabi yaitu, kepada mereka diungkapkan perkara-perkara gaib yang disebut juga nubuat.


Perlu diingat bahwa doa _Ihdinash shiroothol mustaqiim. Shirootholladziina an'amta 'alaihim_ ini hakikatnya bukanlah doa untuk memohon nubuat. Melainkan doa untuk mencapai posisi atau derajat layak mendapatkan nubuat dari Allah.

Posisi layak mendapatkan nubuat tidak mungkin dicapai, tanpa kedekatan yang sedekat-dekatnya dengan Allah Ta'ala. Pada posisi ini manusia dalam keadaan "tak berbicara atas kemauan sendiri", _wamaa yantiqu 'anil hawaa_ (53:3). Posisi atau derajat ini dicapai ketika nanusia dalam keadaan "mendekat dan bertambah dekat lagi dengan Allah", _danaa fatadallaa_ (53:8). Hingga dia secara bayangan melepaskan kerudung kemanusiaannya dan menyembunyikan diri di bawah kerudung keilahian.


Kapan manusia bisa mencapai posisi ini? Posisi ini bisa dicapai setelah manusia menempuh jalan "suluk". Para sufi yang kurang pengetahuan telah tersandung dan menganggap diri seolah-olah sebagai Tuhan. Dengan batu sandungan itu mereka menyebarkan kesalahan yang berbahaya, yang menghancurkan banyak orang. Batu sandungan itu adalah masalah keberadaan Allah Yang Maha Esa, yang mereka kurang mengetahui hakikatnya.


Selama manusia belum mencapai derajat atau keadaan "tak berbicara atas kemauan sendiri" ( _maa yantiqu 'anil hawaa_), dia tidak bisa memiliki kekuatan untuk menerima dan menyampaikan nubuat. Derajat ini bisa diperoleh ketika manusia mencapai kedekatan dengan Allah. Untuk nencapai posisi dekat dengan Allah, orang perlu mengamalkan _takhollaquu bi akhlaaqillaahi_ (berakhlaklah dengan akhlak Allah) atau berupaya mewarnai diri dengan sifat-sifat Allah, mewujudkan sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah.

Apabila seseorang tidak memuliakan sifat-sifat Allah Ta'ala dengan mengingatnya, dan pada cermin perilakunya tidak terlihat sifat-sifat seperti sifat-sifat-Nya, dia tidak akan bisa mendekat ke hadirat Allah. Dia tidak mungkin bisa menjalin hubungan dengan Allah Ta'ala.


Selanjutnya, para orang tulus (shiddiqin) adalah kelompok yang berada pada posisi kedua.

Ketulusan atau kebenaran sempurna belum terserap dalam diri manusia, selagi dia belum tertarik dengan pertobatan yang sungguh-sungguh ( _taubatan nashuuhan_).

Quran Karim merupakan kumpulan semua kebenaran, dan nama lainnya _Shidq_ (Kebenaran) (39:33).

Selagi manusia belum menjadi tulus atau benar, dia tidak akan bisa mengetahui keunggulan ketulusan atau kebenaran. 


Orang yang berposisi sebagai orang tulus (shiddiq) memperoleh pengetahuan Quran Karim, kehalusan dan kebenaran-kebenarannya, dan dia mencintainya. Karena kebohongan menarik kebohongan, maka pembohong tidak akan pernah mengenal pengetahuan dan kebenaran Al-Quran. Itulah sebabnya Allah berfirman:


لَا يَمَسُّهُ اِلَّا الْمُطَھَّرُوْنَ


"Yang tak seorang pun dapat menyentuhnya, kecuali orang-orang yang disucikan." (Al-Waqi'ah, 56:79).

(Disarikan dari Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 1, hlm. 215-217).

Rabu, 09 Februari 2022

Mukjizat dan Nubuat Nabi Muhammad saw.



Aku telah berkali-kali mengatakan tentang empat macam orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi (nabiyyin), para orang tulus (shiddiqin), para orang setia (syuhada'), dan para orang saleh (sholihin) (4:69).


Jadi, dalam doa _Ihdinash shiroothol mustaqiim. Shirootholladziina an'amta 'alaihim_ (Pimpinlah kami pada jalan yang benar. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat) itu seolah-olah orang memohon keunggulan keempat kelompok orang tersebut.

Keunggulan besar para nabi adalah, mereka mendapat banyak berita dari Allah. Seperti disebutkan dalam Quran Syarif:


فَلَا يُظْھِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًا - اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ


"Maka Dia tak mengungkapkan kegaiban-Nya kepada seorang pun. Kecuali kepada Utusan yang Dia pilih." (Al-Jinn, 72:26-27).

Yakni Allah Ta'ala tidak memberitahukan perkara gaib kepada seorang pun, kecuali kepada nabi-nabi yang Dia pilih.


Kepada orang yang memperoleh bagian keunggulan kenabian, Allah Ta'ala memberitahu sebelumnya kejadian-kejadian yang akan datang. Hal ini merupakan tanda bukti sangat besar bagi para utusan Allah. Tidak ada mukjizat yang lebih besar daripada itu. Nubuat termasuk mukjizat yang sangat besar. Dari semua Kitab Suci terdahulu dan Quran Karim jelas terbukti bahwa tidak ada tanda bukti yang lebih besar daripada nubuat. Para penentang yang kurang pengetahuan dan dengki tidak pernah memikirkan pengetahuan itu. Mereka keberatan dan tidak setuju dengan mukjizat Rasulullah Muhammad saw. Tetapi sangat disayangkan, orang yang menutup mata dan mengajukan keberatan itu tidak mengetahui bahwa begitu banyak mukjizat yang dipertunjukkan oleh Nabi kita yang mulia Muhammad saw. Bahkan jika mukjizat beliau itu dibandingkan dengan mukjizat semua nabi di dunia, maka aku katakan dengan penuh keyakinan bahwa mukjizat Nabi kita Muhammad saw. akan terbukti lebih unngul.


Quran Syarif penuh dengan nubuat Rasulullah Muhammad saw. Dalam Quran terdapat nubuat (ramalan) hingga Kiamat dan sesudahnya. Bukti tertinggi nubuat-nubuat Rasulullah Muhammad saw. adalah adanya pemberi bukti yang hidup untuk nubuat-nubuat itu pada setiap zaman. Seperti pada zaman ini Allah Ta'ala membangkitkan aku sebagai tanda bukti dan memberikan beberapa nubuat (ramalan) sebagai tanda bukti yang agung. Agar aku menunjukkan dengan terang benderang pada orang-orang yang terhalang dari kebenaran dan ma'rifat Ilahi bahwa mukjizat Nabi kita Muhammad saw. permanen dan abadi.


Apakah ada orang Yahudi atau orang Kristen yang menyebut Yesus Tuhan yang bisa menandingi aku dalam memperlihatkan tanda bukti? Tidak ada seorang pun. Inilah bukti kekuatan penampilan mukjizat utama Nabi kita Muhammad saw.

Mukjizat (karomah) yang terjadi di tangan pengikut nabi bisa disebut sebagai mukjizat nabi yang diikutinya. Hal itu logis dan dapat diterima.

Jadi mukjizat (karomah), tanda-tanda, dan nubuat-nubuat yang diberikan kepadaku itu hakikatnya sebagai mukjizat hidup Rasulullah Muhammad saw.


Sekarang, tidak ada pengikut nabi lain yang punya kebanggaan, yang bisa mempertunjukkan mukjizat (karomah), karena di dalam dirinya ada kekuatan suci nabi yang diikutinya. Kebanggaan itu hanya ada pada Islam. Dengan demikian, diketahui bahwa Rasul yang (seolah-olah) hidup untuk selama-lamanya hanyalah Rasulullah Muhammad saw. yang dengan perantaraan jiwa suci dan kekuatan suci beliau, pada setiap zaman selalu ada orang pilihan Allah, yang mengenal Allah dan membuktikan kehadiran Allah.

(Disarikan dari Malfuzat Ahmadiyyahm jld. 1, hlm. 214-215).

Rabu, 02 Februari 2022

Dua Jalan untuk Menjadi Kekasih Allah



Para sufi menulis, ada dua jalan untuk meningkat, mencapai kedekatan dengan Allah dan menjadi kekasih-Nya, yaitu _suluk_ dan _jadzab_.

_Suluk_ adalah jalan peningkatan dengan berpikir bijaksana dan mengikuti jalan Allah dan rasul-Nya. Sebagaimana difirmankan oleh Allah:


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ


"Katakanlah: Jika kamu cinta kepada Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu." 

(Ali Imran, 3:31).


Dengan kata lain, jika kamu ingin dicintai oleh Allah, maka ikutilah Rasulullah Muhammad saw. Beliau adalah pemimpin dan rasul yang sempurna, yang menanggung berbagai penderitaan yang tidak ada bandingannya di dunia ini. Orang yang mengikuti beliau, dengan penuh perjuangan akan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau. Pengikut ( _muttabi'_) sejati adalah orang yang mengikuti pemimpin atau panutan ( _matbu'_) dengan segala cara.


Allah Ta'ala tidak suka pada sikap acuh tak acuh, bermalas-malas, dan menghindari kesulitan. Sebaliknya, sikap itu akan mendatangkan murka-Nya. Allah Ta'ala memberikan perintah kepada manusia untuk mengikuti Rasulullah Muhammad saw. Karena itu, pekerjaan seorang penempuh jalan _suluk_ ( _salik_), pertama-tama melihat (membaca) sejarah hidup lengkap Rasulullah Muhammad saw., kemudian mengikuti dan mencontohnya. Perbuatan atau laku seperti itu disebut _suluk_. Di jalan _suluk_ itu ada banyak kesulitan dan penderitaan. Setelah menanggung semua itulah manusia menjadi kenal dan dekat dengan Allah.


Dari derajat _ahlu suluk_ ( _salik_) meningkat ke derajat _ahlu jadzab_ ( _majdzub_).

Allah Ta'ala tidak menempatkan orang-orang yang melakukan _suluk_ tetap pada derajat _salik_. Tetapi Dia sendiri memasukkan mereka dalam penderitaan dan dengan daya tarik abadi menarik mereka ke arah-Nya.

Semua nabi adalah _majdzub_ atau orang yang ditarik dan dicintai Allah.

Ketika ruh atau jiwa manusia dihadapkan pada musibah dan penderitaan, kejadian itu membuatnya terlatih dan berpengalaman, kemudian ia bersinar.

Seperti besi atau kaca, meskipun mempunyai potensi mengkilat, tetapi ia menjadi mengkilat atau cemerlang setelah dipoles atau digosok. Sehingga wajah orang yang melihatnya tampak padanya.

Mujahadah juga berfungsi sebagai upaya keras untuk memoles atau menggosok hati atau jiwa, sehingga ia menjadi bersih cemerlang dan pada cermin hati itu bisa terlihat wajah Allah dan terlukis akhlak (sifat-sifat) Allah. Setelah seseorang melakukan mujahadah dan penyucian hati, sehingga di dalamnya tidak ada lagi kekotoran, maka akhlak nabi bisa tercermin di dalamnya.

Setiap orang beriman membutuhkan penyucian hati sampai batas tertentu. Orang beriman tidak akan memperoleh keselamatan tanpa cermin (kesucian) hati. Penempuh jalan _suluk_ yang memoles atau menggosok jiwanya dengan keinginan dan usahanya sendiri, menanggung penderitaan. Sedangkan penempuh jalan _jadzab_, dia dimasukkan ke dalam penderitaan, Allah sendiri sebagai pemoles atau penggosoknya. Dengan segala macam kesulitan dan penderitaan, dia dipoles atau digosok, kemudian Allah menganugerahinya 'derajat cermin'. Pada dasarnya _salik_ dan _majdzub_ mempunyai hasil yang sama.

Jadi orang bertakwa ada dua bagian, yaitu penempuh jalan _suluk_ dan penempuh jalan _jadzab_. Takwa sampai batas tertentu memerlukan kesulitan. Maka Allah berfirman:


ھُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ


"Petunjuk bagi orang bertakwa. Yang beriman kepada yang Ghaib." (Al-Baqarah, 2:2-3).

Beriman (percaya) kepada yang Ghaib membutuhkan semacam kesulitan.

(Disarikan dari Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 2, hlm. 36-37).

Di Balik Kesulitan Ada Kemuliaan



Orang bertakwa berperang melawan ketidaksabaran. Sebab orang yang tidak sabar bisa jatuh dalam cengkeraman setan.

Salah satu tanda orang bertakwa adalah istiqomah.

Untuk mencapai kesuksesan, manusia seharusnya mengenal Allah, istiqomah, tidak takut dengan musibah, penderitaan dan ujian. Manusia seperti itu akan mencapai keadaan bisa berwawansabda dengan Allah, seperti para nabi.


Banyak orang di dunia ini yang ingin bisa sampai di langit hanya dengan sekali hembusan napas (ingin mencapai kesuksesan secara instan). Mereka itu menggelikan. Mereka seharusnya melihat keadaan para nabi. Perkataan bahwa dengan pergi ke tempat seorang wali, ratusan orang cepat menjadi wali, itu tidak benar. Allah Ta'ala berfirman:


اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْا اَنْ يَّقُوْلُوْا اٰمَنَّا وَھُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ


"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja karena mereka berkata, kami beriman, dan mereka tak akan diuji?"

(Al-'Ankabut, 29:2).

Bagaimana manusia bisa menjadi wali, bila dia belum diuji, belum mengalami cobaan?


Allah Ta'ala mempunyai kebiasaan, bila perlu meninggalkan keluarga lama dan mengambil keluarga lain. Seperti meninggalkan Bani Israil dan mengambil Bani Ismail. Karena Bani Israil telah terjebak dalam kesenangan dan kemewahan, serta melupakan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:


وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِِلُھَا بَيْنَ النَّاسِ


"Dan Kami mempergilirkan hari-hari di antara manusia." (Ali Imran, 3:140).


Bayazid Bastami (Abu Yazid al-Bustami) sedang berceramah dalam sebuah majelis atau pertemuan. Di sana juga hadir seorang putra Syekh yang memiliki silsilah yang panjang. Dalam hati putera Syekh ada rasa dengki kepada Bayazid. Putea Syekh ini berpikir bahwa Bayazid adalah seorang laki-laki dari keluarga biasa. Tidak mungkin dia punya kemampuan luar biasa (ajaib), sehingga orang-orang condong kepada Bayazid dan tidak condong kepadanya. Pikiran putra Syekh ini Allah tunjukkan (ilhamkan) kepada Bayazid. Maka kemudian Bayazid mulai menyampaikan ceramahnya dalam bentuk sebuah kisah:

Dalam pertemuan di suatu tempat, pada waktu malam,  ada lampu lentera sedang menyala  yang di dalamnya terdapat minyak tanah bercampur air. Terjadi percakapan antara minyak tanah dengan air. Air mengatakan pada minyak tanah, "Kamu kotor. Meskipun kotor, kamu berada di atasku. Sedangkan aku benda yang bersih dan digunakan untuk membersihkan sesuatu. Tetapi aku berada di bawah. Apa sebabnya?" Minyak tanah berkata, "Begitu banyak kesulitan dan penderitaan yang telah aku tanggung dan aku alami. Karena itulah aku di atas, aku mendapatkan kemuliaan. Pada suatu waktu, ketika aku tersembunyi di dalam bumi, aku rendah, hina dan tak berarti. Kemudian atas kehendak Allah aku meningkat dan bernilai tinggi. Aku pernah mengalami berbagai kesulitan. Aku diambil (dipompa) dari dalam bumi, kemudian dipisahkan dari air dan kotoran lainnya, kemudian diangkut ke pabrik pengolahan, setelah melalui proses penyulingan, sebagian hasilnya adalah aku, minyak tanah. Setelah mengalami penderitaan-penderitaan itu, tidak pantaskah aku memperoleh derajat yang tinggi dan kemuliaan?


Kisah itu sebagai satu ibarat bahwa seseorang bisa mencapai derajat wali setelah dia mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan.


Allah Ta'ala berfirman, artinya:

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk taman (surga), padahal kamu belum pernah mengalami seperti (apa yang dialami oleh) orang-orang yang sudah lalu sebelummu. Kesengsaraan dan malapetaka telah menimpa mereka, dan mereka diguncangkan sehebat-hebatnya, sampai-sampai rasul dan orang yang beriman dengannya berkata: Kapankah datang pertolongan Allah? Oh, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (Al-Baqarahm 2:214).


Pemikiran bahwa seseorang hanya dengan berkunjung ke seorang wali, tanpa ada perjuangan dan penyucian jiwa, tiba-tiba dia termasuk orang tulus (shiddiqin), itu pemikiran yang mentah.

Allah ridha dengan seseorang setelah dia mengalami penderitaan seperti para nabi.

Allah selalu memasukkan hamba-Nya dalam cobaan, kemudian barulah menerimanya.

(Disarikan dari Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 2, hlm. 35-36).

Senin, 17 Januari 2022

Malaikat dan Setan

 


Allah menciptakan setan, bukan untuk menjatuhkan manusia dalam dosa dan kesesatan. Penciptaan setan juga bukan dimaksudkan agar manusia selalu terlibat dalam kejahatan dan tidak pernah memperoleh keselamatan.


Akidah umat Islam yang benar, seperti yang telah Allah sendiri jelaskan dengan firman-Nya yaitu, Allah Ta'ala telah menyediakan bagi manusia dua sarana untuk kebaikan dan kejahatan. 

Untuk itu, Allah Ta'ala menetapkan dua macam penggerak secara alami.

Pertama, penyeru atau pengajak kebaikan, yakni malaikat yang memasukkan keinginan kuat untuk kebaikan dalam hati manusia.

Kedua, penyeru atau pengajak kejahatan, yakni setan yang memasukkan keinginan kuat untuk kejahatan dalam hati manusia.


Namun Allah Ta'ala hendak memberi kemenangan pada penyeru kebaikan (malaikat). Untuk mendukung dan menguatkannya, Allah menganugerahkan akal kepada manusia, menurunkan firman-Nya, menunjukkan keajaiban (mukjizat) dan tanda-tanda, serta menetapkan hukuman berat untuk perbuatan kejahatan. Jadi Allah Ta'ala memberi banyak macam cahaya kepada manusia agar dia memperoleh petunjuk. Keadilannya yang tulus membuatnya siap menerima petunjuk.

Adanya setan (penyeru kejahatan) yang mendorong ke arah kejahatan, hikmahnya agar dengan menghindari atau menahan diri dari dorongan setan itu, manusia memperoleh pahala. Yakni pahala yang tidak bisa didapatkan kecuali dengan ujian semacam itu (ujian yang berupa dorongan atau bujukan setan, pent.)


Ditemukan bukti lain yang sangat jelas tentang kedua penyeru, yakni penyeru kebaikan dan penyeru kejahatan bagi manusia. Manusia sendiri merasakan dengan jelas dalam jiwanya bahwa dia selalu terpengaruh dengan dua macam keinginan kuat. Kadang-kadang dia mengalami keadaan yang jernih dan cerah, sehingga pikiran baik dan keinginan baik muncul di dalam hatinya. Sebaliknya, kadang-kadang keadaannya penuh dengan ketidakjelasan dan suram, sehingga tabiatnya kembali ke pikiran-pikiran jahat dan dalam hatinya ada kecenderungan ke arah kejahatan.


Inilah dua penyeru yang ditafsirkan sebagai malaikat dan setan. Dengan cara lain, para ahli filsafat (filsuf) menjelaskan keduanya, baik penyeru kebaikan maupun penyeru kejahatan. Menurut pendapat mereka, dalam keberadaan manusia sendiri terdapat dua macam kekuatan. Pertama, kekuatan malaikat, sebagai penyeru kebaikan. Kedua, kekuatan setan, sebagai penyeru kejahatan. Kekuatan malaikat mendorong menuju kebaikan. Kekuatan setan mendorong menuju kejahatan.


Singkatnya, perbedaan antara akidah atau keyakinan Islam dengan keyakinan semua filsafat di dunia hanyalah, umat Islam menganggap kedua penggerak atau pendorong itu sebagai dua makhluk di luar manusia. Sedangkan para ahli filsafat menganggap kedua penggerak itu sebagai dua macam kekuatan yang ada di dalam jiwa manusia itu sendiri.

Tetapi faktanya, ditemukan dua penggerak bagi manusia, apakah mereka sebagai dua makhluk di luar manusia atau sebagai dua kekuatan (dalam diri manusia). Hal ini merupakan kepercayaan umum, yang semua kelompok ahli filsafat sepakat tentang ini. Sampai hari ini tidak ada orang bijak yang menolak kepercayaan umum ini.

(Disarikan dari Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 2, hlm. 18-19).

Senin, 10 Januari 2022

Mengenal Allah Melalui Doa

 


Surat Al-Fatihah sebagai inti semua ajaran Quran Syarif. Barangsiapa yang ingin mengambil sesuatu yang bertentangan dengan Al-Quran, itu tidak benar. Sebagaimana telah aku nyatakan, umat Islam dianjurkan agar dengan surat Al-Fatihah mereka rajin berdoa. Bahkan telah diajarkan pada mereka doa _"Ihdinaash shiroothol mustaqiim"_ (pimpinlah kami pada jalan yang benar). Mereka diwajibkan berdoa dengan doa ini dalam shalat wajib lima waktu.

Betapa salahnya seseorang yang mengingkari kekuatan ruhaniah doa. Quran Syarif telah menetapkan bahwa dalam doa terkandung kekuatan ruhaniah. Dari doa turunlah rahmat yang membuahkan berbagai macam kesuksesan.


Setiap orang yang adil dan bijaksana bisa mengerti bahwa terlepas dari adanya penerimaan atau pengakuan masalah takdir dalam banyak hal, menurut sunatullahnya dengan usaha keras akan ada hasil yang diatur. Demikian pula dalam hal doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh, ia tidak akan sia-sia. Pada satu tempat dalam Quran Syarif, Allah Ta'ala telah menetapkan tanda untuk mengenal-Nya, Tuhan kita adalah Tuhan yang mendengar doa orang-orang yang resah.

Allah berfirman:


اَمَّنْ يُجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ


"Atau siapakah yang mengijabahi (doa) orang yang susah tatkala dia berdoa kepada Nya?" 

(An-Naml, 27:62). 


Ketika Allah menjadikan pengabulan doa sebagai tanda keberadaan-Nya, bagaimana mungkin orang yang bijaksana dan rendah hati bisa menganggap bahwa pada saat orang berdoa, tidak ada tanda ijabah yang jelas baginya dan doa itu hanya sebagai perkara formalitas yang tidak ada kekuatan ruhaniahnya? Menurutku ketidaksopanan seperti itu sama sekali tidak akan dilakukan oleh orang beriman sejati.

Ketika Allah Ta'ala berfirman bahwa dengan merenungkan sifat-sifat bumi dan langit dapat dikenal Tuhan sejati; demikian pula dengan melihat terkabulnya doa, seseorang menjadi yakin akan adanya Allah Ta'ala.

Kemudian seandainya tidak ada kekuatan ruhaniah dalam doa dan tidak ada berkah yang nyata dalam doa, bagaimana mungkin doa bisa menjadi sarana untuk mengenal Allah Ta'ala, seperti sarana benda-benda bumi dan langit?


Dari Quran Syarif diketahui bahwa sarana tertinggi untuk mengenal Allah adalah doa. Pengetahuan yang benar-benar lengkap tentang keberadaan Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna, hanya dapat dicapai melalui doa, bukan dengan cara lainnya.

Sesuatu seperti cahaya halilintar yang sekali waktu menarik manusia keluar dari lubang kegelapan dan membawanya ke tempat terbuka penuh cahaya, serta membuatnya berdiri di hadapan Allah Ta'ala, sesuatu itu adalah doa. Melalui doa, ribuan orang yang jahat dan rusak bisa menjadi baik.


Dalam berdoa ada kendala utama, karenanya seringkali keagungan doa tersembunyi dari hati. Kendala utama itu adalah tidak terpenuhinya syarat ketakwaan, ketulusan dan keimanan.

Allah Ta'ala berfirman: 


اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ


"Sesungguhnya Allah akan menerima dari orang yang bertakwa." (Al-Maidah, 5:27).

Yakni, Allah Ta'ala menerima doa orang-orang bertakwa.


Kemudian Allah berfirman:


وَاِذَا سَاَلَكَ عٍبَادِىْ عَنِّىْ فَاِنِّىْ قَرِيْبٌ - اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِىْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِىْ لَعَلَّھُمْ يَرْشُدُوْنَ .


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa tatkala dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka dapat menemukan jalan yang benar." 

(Al-Baqarah, 2:186).


Dengan kata lain, ketika hamba-hamba Allah bertanya tentang Allah, tentang keberadaan-Nya; maka jawabannya Allah sangat dekat. Keberadaan Allah dapat dimengerti dengan jalan yang sangat dekat. Argumen tentang keberadaan Allah dapat diperoleh dengan sangat mudah, yaitu ketika seorang pemohon memanggil Allah, Allah mendengarnya. Dengan ilham-Nya, Dia menyampaikan kabar baik tentang keberhasilannya, darinya dia tidak hanya yakin pada keberadaan-Nya, tapi juga kuat keyakinannya pada kekuasaan-Nya.

Namun orang-orang seharusnya mewujudkan keadaan takwa sedemikian rupa, sehingga Dia mendengarkan suara mereka. Sebelum mencapai pengetahuan dan pengenalan penuh tentang Allah, mereka seharusnya beriman pada Allah dan menyatakan bahwa Allah itu ada, Dia memiliki semua kekuatan dan kekuasaan. Karena orang beriman diberi kearifan.

(Ayyamus Sulh, hlm. 31-32).

Kebersihan Lahiriah dan Batiniah

 


Nabi menjadi bapak ruhani. Dia ingin secara berangsur-angsur menyingkirkan setiap ketidaksucian atau kekotoran dan menyelamatkan manusia dari setiap bahaya.

Kekotoran tahap pertama yang menyebabkan manusia dalam keadaan seperti binatang adalah kekotoran jasmaniah, darinya menimbulkan penyakit berbahaya dan mematikan. Karena itu tentu Kitab Allah yang sempurna memulai pengajarannya dari masalah itu.

Pertama-tama Allah ingin orang melepaskan kekotoran jasmaniah dan keadaan seperti binatang (biadab), lalu menjadi insan (manusia). Kemudian dengan mengajarkan aturan akhlak utama dan kebersihan batiniah Allah membuat manusia menjadi insan beradab. Kemudian insan beradab yang mencapai kehalusan cinta dan fana fillah (lebur dalam Allah) Dia tingkatkan menjadi insan bertakwa.


Dalam kalam suci-Nya  Allah Ta'ala mendorong manusia menuju dua macam kebersihan (kebersihan lahiriah dan batiniah). Firman-Nya:


اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَھِّرِيْنَ .


"Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan mencintai orang yang suci." (Al-Baqarah, 2:222).


Dengan kata _"tawwaabiin"_(orang yang bertobat), Allah Ta'ala mendorong manusia ke arah kebersihan dan kesucian batiniah. Dengan kata _"mutathohhiriin"_ (orang yang suci) Allah menekankan pada kebersihan dan kesucian lahiriah.


Dari ayat itu tidak berarti bahwa orang yang hanya menjaga kebersihan dan kesucian lahiriah, yang dicintai oleh Allah. Dengan tergabungkannya kata _"tawwaabiin"_ (orang yang bertobat) itu mengisyaratkan bahwa manusia, hamba Allah yang mendapat cinta Allah yang penuh adalah dia yang selain menjaga kebersihan dan kesucian lahiriah juga melakukan pertobatan sejati dan kembali kepada Allah Ta'ala. Dengan cinta Allah yang sempurna, manusia  akan selamat di hari Kiamat.

Orang yang hanya memerhatikan kebersihan dan kesucian lahiriah di dunia, dia hanya dapat mengambil faedah, terlindungi dari banyak penyakit jasmani. Meskipun dia tidak bisa melihat cinta Allah Ta'ala tingkat tinggi, tapi karena dia melakukan sedikit perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah, yakni menjaga kebersihan rumahnya, badannya dan pakaiannya, maka dia diselamatkan dari beberapa malapetaka jasmaniah. Kecuali orang yang banyak dosanya, dia pantas mendapat hukuman.


Jika kamu membaca Al-Quran dengan seksama, kamu akan tahu bahwa Allah Yang belas kasih-Nya tak terbatas menghendaki agar manusia menyukai kesucian batiniah untuk bisa terselamatkan dari siksaan ruhani,  serta menyukai kebersihan lahiriah untuk bisa terhindar dari neraka dunia yang dimanifestasikan dalam bentuk berbagai penyakit dan wabah.


Dijelaskan, _"tawwaabiin"_ (orang yang bertobat) maksudnya orang yang berjuang untuk mewujudkan kebersihan dan kesucian batiniah. _"Mutathohhiriin"_ (orang suci) maksudnya orang yang selalu berjuang untuk mewujudkan kebersihan dan kesucian lahiriah atau jasmaniah.


Di tempat lain Allah berfirman:


كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا .


"Makanlah barang-barang yang baik dan berbuatlah kebaikan." (Al-Mu'minun, 23:51).


Dalam ayat itu terdapat dua perintah. 

Pertama, "makanlah barang-barang yang baik", untuk pengelolaan kebaikan jasmani.

Kedua, "berbuatlah kebaikan", untuk pengelolaan kebaikan ruhani.

Dari perbandingan antara keduanya, kita mendapatkan argumen bahwa hukuman akhirat itu diperlukan untuk orang jahat. Sebab ketika kita mengabaikan aturan kebersihan jasmani di dunia, kita langsung terperangkap dalam musibah. Begitu pula bila kita meninggalkan prinsip kebersihan dan kesucian ruhani, maka setelah kematian tentu akan ada azab yang menimpa kita.

(Disarikan dari Ayyamus Sulh, hlm. 109-111).

Selasa, 28 Desember 2021

Doa dan Usaha

 


Ketika jiwa kita dengan semangat tinggi menghadap ke arah Sumber rahmat (Allah) untuk memohon sesuatu, dan dengan memikirkan kelemahan diri sendiri kita mencari cahaya dari tempat lain; maka sebenarnya keadaan kita itu merupakan keadaan berdoa.

Dengan doa itu semua pengetahuan dan kebijaksanaan dapat terungkap. Doa merupakan kunci setiap rumah pengetahuan. Tidak ada bagian pengetahuan sekecil apa pun yang terungkap tanpa doa. Pemikiran kita, perenungan kita, dan penggunaan pikiran kita untuk pencarian akan hal-hal yang tersembunyi, semua itu termasuk dalam perkara doa.

Perbedaannya hanyalah, doa orang-orang yang mengenal Allah ('arif) terikat dengan aturan pengenalan Allah. Jiwa mereka mengenal Sumber rahmat (Allah), dengan penglihatan ruhani mereka menghadap ke arah-Nya.

Sedangkan doa orang-orang yang terhijab (mahjub) hanyalah pengembaraan pikiran yang dimanifestasikan dalam corak pemikiran, pertimbangan, dan pencarian penyebab dan sarana. Mereka orang-orang yang tidak mengenal Allah Ta'ala dan tidak percaya kepada-Nya. Mereka pun dengan kontemplasi dan pemikiran yang mendalam berharap agar dari yang gaib ada hal kesuksesan yang terbisikkan dalam hati mereka.


Orang yang mengenal Allah yang berdoa menginginkan agar Allah membukakan jalan untuk kesuksesan padanya. Tetapi orang yang terhijab yang tidak memiliki koneksi dengan Allah Ta'ala, tidak tahu sumber rahmat. Seperti orang yang mengenal Allah, fitrah orang yang terhijab saat kebingungan juga menginginkan bantuan dari tempat lain, dan untuk memperoleh bantuan itu, dia berpikir. Orang yang mengenal Allah melihat sumber bantuan itu. Sedangkan orang yang terhijab berjalan dalam kegelapan dan tidak tahu bahwa apa yang muncul dalam hati atau batinnya setelah dia berpikir dan merenung itu juga dari Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala menetapkan berpikirnya seorang pemikir sebagai doa. Allah menurunkan pengetahuan dalam hati atau batin orang yang berpikir sebagai pengabulan doa.


Pendek kata, titik pengetahuan dan kebijaksanaan yang muncul dalam hati atau batin melalui pemikiran itu juga berasal dari Allah, meskipun orang yang berpikir tidak mengerti. Tetapi Allah Ta'ala mengetahui bahwa dia sedang  memohon kepada-Nya, maka akhirnya dia memperoleh apa yang dimaksudkan dari Allah.


Doa yang bijaksana ('arifanah doa) sebagai cara mencari cahaya dengan mengenal Pembimbing hakiki (Allah) dan dengan penglihatan ruhani.

Sedangkan doa yang terhijab atau terselubung (mahjubah doa) sebagai cara mencari cahaya dari sumber yang tidak diketahui dan tidak terlihat penuh wujud Pemberi cahaya hakiki, dengan melalui pemikiran dan perenungan.


Dari pembahasan itu terbukti bahwa untuk mewujudkan usaha dan manajemen urutan pertamanya adalah doa, yang telah ditetapkan oleh hukum alam sebagai hal penting bagi setiap manusia.

Setiap manusia yang ingin mencapai suatu tujuan tentu saja harus melalui jembatan itu.

Sungguh memalukan seseorang yang berpikir bahwa ada kontradiksi antara doa dengan usaha.

Apa yang maksud berdoa di sini? Yaitu berharap agar Allah Yang mengetahui hal gaib berkenan membisikkan dalam hati usaha dan manajemen terbaik.

Kemudian bagaimana mungkin terjadi kontradiksi antara doa dengan usaha?


Sebagaimana dari kesaksian hukum alam terbukti bahwa ada hubungan usaha dengan doa, begitu pula hal itu juga terbukti dengan kesaksian fitrah manusia. Seperti yang terlihat saat ada  musibah atau kesulitan, sifat dasar manusia cenderung sibuk ke arah usaha dan perbaikan. Selain itu, dengan semangat alami dia juga condong ke arah doa, amal dan sedekah.

Jika kita perhatikan semua  bangsa di dunia, maka dapat diketahui bahwa hingga sekarang tidak terlihat ada konsensus suatu bangsa yang bertentangan dengan masalah itu. Inilah argumen ruhani bahwa hukum batin manusia sejak dahulu kala telah memberikan fatwa kepada semua bangsa bahwa mereka tidak boleh memisahkan doa dengan sarana dan usaha. Sebaliknya mereka seharusnya mencari solusi usaha melalui doa. Jadi doa dan usaha merupakan dua tuntutan alami sifat manusia sejak dahulu kala dan sejak manusia lahir. Mereka seperti dua saudara kandung yang berfungsi sebagai pelayan fitrah manusia. Usaha sebagai hasil kebutuhan untuk doa, dan doa sebagai penggerak dan penarik untuk usaha. Keberuntungan manusia terletak pada kenyataan bahwa dia seharusnya meminta bantuan dari Sumber rahmat (Allah) dengan doa sebelum melakukan usaha dan manajemen, sehingga dia bisa memperoleh cahaya dan perencanaan serta usaha dari Sumber abadi (Allah) yang baik sekali.

(Ayyamus Sulh, hlm. 2-3).

Rabu, 15 Desember 2021

Ibadah dan Pahala Hakiki

 


Beberapa orang dengan cepat mengatakan bahwa mereka tidak melarang berdoa, tetapi doa hanya berarti ibadah yang untuk itu pahala diatur.

Namun sayang, mereka tidak berpikir bahwa setiap ibadah yang di dalamnya tidak diperoleh kekuatan ruhani dari Allah Ta'ala, setiap pahala yang hanya merupakan angan-angan yang diharapkan untuk masa depan, semua anggapan itu salah.

Ibadah dan pahala hakiki adalah ibadah dan pahala yang cahaya (pengaruh) dan berkahnya terasakan juga di dunia ini.


Tanda-tanda terkabulnya ibadah (doa) kita yaitu, tepat pada waktu kita berdoa, dengan mata hati, kita melihat turunnya cahaya penawar racun dari Allah yang menghilangkan zat-zat beracun dari hati kita, yang turun seperti nyala api dan segera dipenuhi hati kita dengan keadaan bersih dan lapang, keyakinan, cinta, kenikmatan, kasih sayang, dan kegairahan.

Jika hal-hal ini tidak ada, maka doa dan ibadah pun hanya merupakan ritual dan adat kebiasaan.


Setiap doa meskipun untuk pemecahan kesulitan duniawi kita, tetapi dengan melewati keadaan iman dan tingkat pengenalan Tuhan kita. Yakni, awalnya doa itu meningkatkan iman dan pengenalan Tuhan. Ia juga memberikan kedamaian, kesenangan, ketenangan, kepuasan hati, dan kesejahteraan sejati. Kemudian ia memengaruhi kekejian duniawi kita dan dengan aspek yang sesuai menghilangkan kesedihan kita.

Singkatnya, dari semua bahasan itu terbukti bahwa doa dapat disebut doa sejati apabila benar-benar ada daya tarik di dalamnya, dan setelah orang berdoa benar-benar ada cahaya (pengaruh) turun dari langit yang menghapuskan kebingungan dan kecemasan kita, memberikan kepada kita ketenangan batin, kedamaian, dan kepuasan.


Setelah kita berdoa, Allah Yang Maha Bijaksana menurunkan pertolongan dan dukungan dengan dua cara:

Pertama, menghilangkan musibah atau penderitaan yang di bawahnya kita tertekan hampir mati.

Kedua, memberi kekuatan luar biasa untuk menanggung musibah, bahkan Allah memberinya kesenangan dalam menanggung musibah itu.

Karena itu, dengan kedua cara tersebut terbukti bahwa dengan doa tentu turun pertolongan Ilahi.

(Ayyamus Sulh, hlm. 12-13).

Empat Alasan Doa Diwajibkan



Perlu diingat bahwa dalam firman suci-Nya Allah Ta'ala mewajibkan berdoa kepada umat Islam. Ada empat alasan penetapan kewajiban berdoa ini.


Pertama, agar dengan kembali (menghadap) kepada Allah Ta'ala pada setiap saat dan setiap keadaan, seseorang akan kuat kepercayaannya pada keesaan Allah (tauhid). Karena dengan (sering) memohon kepada Allah berarti dia mengakui bahwa hanya Allah sendiri yang memberi atau mengabulkan permohonan.


Kedua, agar iman menjadi kuat dengan terkabulnya doa dan tercapainya tujuan.


Ketiga, jika karunia dan pertolongan Ilahi diberikan dalam jenis lain, maka akan diperoleh lebih banyak pengetahuan dan kebijaksanaan.


Keempat, jika pengabulan doa dijanjikan atau diberitahukan melalui ilham dan ru'ya, dan yang terjadi seperti yang dijanjikan, maka pengenalan Allah (ma'rifat Ilahi)nya akan meningkat. Dari pengenalan meningkat menjadi keyakinan, dari keyakinan meningkat menjadi cinta, dan dengan cinta akan tercapai pembebasan dari setiap dosa dan pemutusan dengan segala sesuatu selain Allah.


Bila seseorang mencapai keinginan-keinginannya, tetapi dia jauh dan terpisah dari Allah Ta'ala, maka semua keinginan itu hasil akhirnya penyesalan. Semua tujuan yang dibanggakan akhirnya menjadi ruang penyesalan.

Semua kesenangan dunia akhirnya akan tergantikan dengan kesedihan. Semua kenyamanan dan ketenangan akan berubah menjadi kesedihan dan rasa sakit. Tetapi penglihatan ruhani dan pengenalan Ilahi yang manusia peroleh dari doa, dan kenikmatan yang diperoleh dari khazanah langit pada saat berdoa, tidak akan pernah kurang dan tidak akan hilang. Sebaliknya, dengan doa manusia setiap hari meningkat ma'rifat dan cinta Ilahinya dan melalui tangga doa manusia akan naik ke surga.

(Ayyamus Sulh, hlm. 13-14).

Kamis, 02 Desember 2021

Empat Keunggulan Wali Allah (2)

 


Kedua, pemimpin para wali dan orang-orang terpilih memperoleh pemahaman dan pengetahuan Al-Quran yang tinggi.

Perlu diingat, ada ajaran Quran Syarif yang rendah, yang sedang atau rata-rata, dan yang tinggi. Ajaran yang tinggi berlimpah dengan cahaya pengetahuan, cahaya kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati, yang sama sekali tidak bisa dijangkau oleh orang yang memilki kemampuan rendah atau sedang. Hanya pemilik sifat yang sangat luhur, pemilik fitrah yang suci, yang sifat atau wataknya penuh cahaya dan menarik cahaya ke arah dirinya, yang bisa mencapai kebenaran-kebenaran itu.


Ketiga, para wali besar mencapai derajat _syahadat_(menjadi saksi iman). Derajat _syahadat_ berarti, derajat ketika manusia dengan kekuatan imannya sangat percaya kepada Tuhannya dan Hari Pembalasan, sehingga seolah-olah dia melihat Tuhan dengan matanya sendiri. Kemudian dengan berkah keyakinan itu, kepahitan untuk melakukan perbuatan baik menjadi lenyap, setiap takdir yang ditetapkan Allah Ta'ala terasa manis seperti madu di hatinya, dan setiap cobaan atau penderitaan dilihat olehnya sebagai hadiah.

Oleh karena itu, _syahid_ adalah orang yang karena kekuatan imannya, dia (seolah-olah) melihat Tuhan. Dia merasakan pahitnya takdir Ilahi seperti menikmati manisnya madu. Derajat ini sebagai tanda untuk orang beriman yang sempurna.


Keempat, para wali yang sempurna dan orang-orang terpilih mencapai derajat _shalihin_ sepenuhnya. Seseorang disebut _shalih_ ketika batinnya bersih dari semua kejahatan. Dengan pembersihan semua hal yang kotor dan busuk itu, bisa dicapai puncak kenikmatan ibadah dan zikir Ilahi.

Sebagaimana karena penyakit jasmani, rasa dan kelezatan di lidah menjadi rusak. Demikian juga karena penyakit ruhani, rasa dan kelezatan dalam ruhani menjadi rusak pula.

Seseorang yang mengidap penyakit ruhani tidak bisa merasakan kenikmatan dalam beribadah dan zikir Ilahi. Dia juga tidak punya antusiasme, semangat atau dorongan untuk itu.

Sebaliknya, manusia sempurna (insan kamil) tidak hanya suci dari kekotoran dan kejahatan, bahkan kesucian dan kemampuannya banyak berkembang sehingga muncul tanda dan keajaiban di dalamnya.

Singkatnya, inilah empat level keunggulan (wali Allah), setiap orang beriman wajib berusaha untuk mencapainya. Itulah sebabnya di dalam surat Al-Fatihah Allah Ta'ala telah menetapkan doa bagi umat Islam, agar dengan doa itu mereka memohon empat keunggulan kepada-Nya. 

Doa itu sebagai berikut:


اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ - صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْھِمْ -


"Pimpinlah kami pada jalan yang benar. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat." 

(Al-Fatihah, 1:5-6).


Ayat ini telah dijelaskan di tempat lain dalam Quran Syarif (4:69). Yang dimaksud orang-orang yang telah diberi kenikmatan oleh Allah adalah para nabi, shiddiq (orang tulus), syahid (orang setia) dan shalih (orang saleh). Manusia sempurna (insan kamil) memiliki kombinasi keempat keunggulan itu dalam dirinya.

(Tiryaqul Qulub, hlm. 247-250).

Selasa, 30 November 2021

Empat Keunggulan Wali Allah (1)

 


Hendaklah diingat bahwa pengetahuan yang luas tentang perkara gaib, sama sekali tidak diberikan kepada orang yang tidak memiliki hubungan erat dengan Allah. Meskipun mungkin orang lain yang hubungannya dengan Allah tidak erat, sesekali mengalami mimpi yang benar atau kasyaf yang benar.

Syarat yang diperlukan untuk menjadi wali dan manusia pilihan Allah yaitu, perkara gaib dan hal-hal tersembunyi semestinya diungkapkan kepadanya dalam kelimpahan yang jauh lebih besar daripada orang lain di seluruh dunia. Sehingga tidak ada yang bisa menandinginya.

Perlu diingat, ketika Allah Ta'ala dengan karunia-Nya yang besar menganugerahkan jubah dan status kewalian kepada seseorang, Dia memberinya perbedaan yang jelas dengan teman sebayanya dan orang-orang sezamannya dalam empat hal. Jika perbedaan seperti itu ditemukan pada seseorang, maka wajib dipercayai bahwa dia pasti salah seorang dari hamba-hamba Allah yang sempurna dan wali Allah yang mulia, yang telah Allah pilih dan latih dengan bimbingan khusus-Nya.


Empat hal yang merupakan tanda para wali dan hamba Allah yang sempurna, adalah empat keunggulan (keutamaan) yang diberikan kepada mereka yang berfungsi sebagai tanda dan mukjizat.

Dalam setiap keunggulan, mereka memiliki perbedaan yang jelas dengan yang lain, bahkan empat keunggulan itu termasuk mukjizat. Orang-orang seperti itu ibarat sulfur merah yang langka. Mereka yang mencapai derajat itu, Allah pilih sejak zaman dulu untuk memberi manfaat kepada dunia.

Empat keunggulan sebagai empat tanda atau empat mukjizat, yang merupakan tanda bagi wali besar dan pemimpin para wali, sebagai berikut:


Pertama, setelah berdoa atau dengan cara lain, kepadanya diungkapkan perkara gaib sedemikian banyak, dan banyak nubuat tergenapi dengan sangat jelas, sehingga tidak ada orang lain yang bisa menandinginya dalam hal kelimpahan kuantitas dan kejelasan kualitasnya.

Yakni, begitu banyak rahasia perkara gaib yang terungkap padanya. Begitu banyak pengabulan doa-doanya, dan pemberitahuan kepadanya tentang akan terkabulnya doa itu. Begitu banyak muncul keajaiban di langit dan bumi sebagai tanda untuk mendukungnya. Sama sekali tidak mungkin orang lain bisa menyamai atau menandingi keunggulannya. Begitu banyak pengetahuan Ilahi tentang perkara gaib, kasyaf yang terang, dan dukungan samawi yang diberikan kepadanya sebagai hal yang luar biasa, mukjizat, dan karomah. Mereka seolah-olah sebagai sungai raksasa yang mengalir, cahaya besar yang memancar dari langit dan menyebar di bumi. Hal-hal ini mencapai tahap yang tampak ajaib dan tiada bandingannya pada zamannya. Keunggulan ini disebut keunggulan nubuat.

(Tiryaqul Qulub, hlm. 246-247).

Rabu, 17 November 2021

Orang Tulus

 


Tingkat pertama ketulusan atau kebenaran (sidq) yang dicapai para wali besar adalah, keengganan untuk urusan duniawi dan ketidaksukaan naluriah (otomatis) terhadap setiap hal yang tak ada gunanya.

Setelah kebiasaan ini mapan, tercapailah tingkat kedua ketulusan, yang bisa disebut semangat, kegairahan dan kembali kepada Allah.

Setelah keadaan atau kebiasaan ini benar-benar mapan, terwujudlah tingkat ketiga ketulusan, yang bisa disebut perubahan terbesar, pemutusan total, cinta pribadi dan tingkat fana fillah (peleburan diri  dalam Allah).


Setelah kebiasaan ini terbentuk, jiwa kebenaran menembus manusia, semua kebenaran murni dan masalah pengetahuan tingkat tinggi terungkap untuknya. Pengetahuan Quran yang paling dalam dan mendalam serta pokok-pokok syariat muncul dalam hatinya dan keluar dari bibirnya. Rahasia dan seluk beluk agama seperti itu diungkapkan atau dibukakan kepadanya, yang tidak dapat dicapai oleh akal penganut pengetahuan konvensional. Hal ini disebabkan dia diilhami oleh Allah, dan Ruhul Quddus (malaikat Jibril) berbicara dengannya. Semua kecenderungan pada kebohongan dihilangkan dari dalam dirinya, karena dia mendengar dari ruh (malaikat), berbicara sesuai dengan yang didengarnya, dan dengan ruh dia memengaruhi orang lain.


Dalam keadaan ini dia disebut orang tulus (shiddiq), karena kegelapan kebohongan sepenuhnya terhapus dari dalam dirinya, dan digantikan oleh cahaya kebenaran dan kesucian. 

Pada tahap ini, manifestasi kebenaran dan pengetahuan tingkat tinggi keluar lewat lisannya sebagai tanda baginya. Ajarannya yang suci yang difermentasi dengan cahaya kebenaran mencengangkan dunia. Pengetahuan sucinya yang berasal dari sumber fana fillah (peleburan diri dalam Allah) dan pengetahuan kebenaran, menakjubkan semua orang. Keunggulan semacam ini disebut keunggulan ketulusan (shiddiqiyyat).


Hendaklah diingat bahwa orang tulus (shiddiq) adalah orang yang memiliki pengetahuan yang lengkap tentang kebenaran (dari Allah) dan dengan sendirinya bertindak berdasarkan pengetahuan itu.

Misalnya, dia mengetahui makna sebenarnya (hakikat) hal-hal seperti: Keesaan Allah, ketaatan kepada Allah, cinta Allah, capaian bebas dari syirik, hakikat ibadah, hakikat keikhlasan, hakikat tobat; dan inti akhlak utama seperti kesabaran, rasa tawakal, kejujuran, kesetiaan, pengampunan, rasa malu, kerendahan hati, sifat dapat dipercaya, pencegahan diri dari kejahatan dsb. Selain memiliki pengetahuan-pengetahuan ini, dia juga berdiri kokoh dalam semua kebajikan ini.

(Tiryaqul Qulub, hlm. 247-249).

Menjadi Seperti Nabi

 


Jika diperhatikan dengan seksama, sebenarnya semua nabi diutus di dunia dengan maksud agar umat manusia berusaha untuk menjadi seperti mereka.

Seandainya dengan mengikuti para nabi kita tidak bisa menjadi seperti mereka, sebaliknya keinginan untuk menjadi seperti para nabi dianggap bisa menyebabkan kita menjadi kafir dan ateis; maka berarti kedatangan para nabi sia-sia dan iman kita kepada mereka pun tidak berguna.


Quran Syarif memberikan petunjuk dengan jelas. Dalam surat Al-Fatihah Allah memberi harapan kepada kita untuk menjadi seperti para nabi. Allah mendorong kita agar dalam lima waktu sehari, kita berdiri di hadapan-Nya untuk salat, dan dalam salat kita diminta untuk berdoa kepada-Nya:


اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ - صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْھِمْ -


"Pimpinlah kami pada jalan yang benar. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat."

(Al-Fatihah, 1:5-6).

Yakni, wahai Tuhan kami Yang Maha Pemurah dan Pengasih, berilah kami petunjuk agar kami menjadi seperti Adam Shafiyullah, menjadi seperti Syits Nabiyullah, menjadi seperti Nuh Adam kedua, menjadi seperti Ibrahim Khalilullah, menjadi seperti Musa Kalimullah, menjadi seperti Isa Ruhullah, menjadi seperti Ahmad  Mujtaba Muhammad Mustafa Habibullah, menjadi seperti setiap orang tulus (shiddiq) dan orang setia (syahiid) di dunia.


Beberapa ulama kita menganggap kafir dan ateis orang yang menyatakan diri menjadi seperti nabi. Orang yang menerima kabar baik (basyarat) dengan ilham Ilahi, mereka sebut sebagai ateis, kafir dan ahli neraka. Bila ayat itu artinya bukan seperti yang telah aku jelaskan, mereka seharusnya memikirkan dan mengatakan saja, apa artinya. Bila arti (yang aku sampaikan) itu tidak benar, lalu mengapa Allah berfirman seperti di bawah ini?


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللَّهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللَّهَ -


"Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku; Allah akan mencitaimu." (Ali Imran, 3:31).


Hendaklah mereka berpikir, ketika seseorang yang mengikuti kekasih Allah, dia juga bisa menjadi kekasih Allah; maka orang yang mengikuti kekasih Allah, dia menjadi seperti kekasih Allah, atau tetap bukan seperti kekasih Allah?


Sayang sekali, penentang kami yang penuh dengan kedengkian tidak berpikir bahwa bagi pencari Tuhan, keinginan menjadi seperti nabi ini merupakan keinginan yang baik dan agung, yang merangsangnya untuk bermujahadat. Hal ini merupakan mesin yang memiliki kekuatan besar untuk menarik ke arah ketakwaan, kesucian, keikhlasan, kebenaran, kejujuran, dan keistiqamahan tingkat tinggi. Hal ini merupakan gairah yang menghilangkan kehausan, yang bergelora dalam hati pencari Tuhan. Jika pencari Kekasih Sejati (Tuhan) putus asa sama sekali untuk mencapai maksud itu, maka dia seakan-akan menjadi tak berguna hidupnya.

Sampai sekarang, begitu banyak sufi besar yang telah berlalu (wafat). Tidak ada seorang pun dari mereka yang berbeda paham bahwa dalam agama ini terbuka jalan bagi siapa pun untuk menjadi seperti para nabi. Sebagaimana Nabi Muhammad saw. telah memberikan kabar baik tentang ulama ruhani atau rabbani (ulama yang memiliki pengetahuan dan pengalaman ruhani atau Ilahi), sebagai berikut:

"Ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil."

(Izala Auham, hlm. 256-259).

Selasa, 09 November 2021

Berkah Takwa

 



Allah Ta'ala berfirman:


اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ ھُمْ مُّحْسِنُوْنَ 


"Sesungguhnya Allah menyertai orang yang bertakwa dan orang yang berbuat baik."

(An-Nahl, 16:128).


Takwa sangat diperlukan, terutama bagi jamaah kita juga bagi orang-orang yang ingin berhubungan dengan orang yang menyatakan diri sebagai utusan Allah dan berbaiat serta masuk dalam jamaahnya. Sehingga orang yang terlibat dalam berbagai kebencian, kedengkian, syirik, atau keterpakuan pada dunia, bisa selamat dari semua bencana itu.


Apabila seseorang menderita sakit, entah sakitnya ringan atau berat, bila dia tidak berusaha untuk mengobatinya, maka sakitnya tidak mungkin sembuh.

Bintik hitam yang muncul di wajah, bisa menimbulkan kekhawatiran yang besar, jangan-jangan bintik ini  meluas dan menghitamkan seluruh wajah.

Sama halnya, maksiat pun bisa menimbulkan noda hitam di hati.


Allah Maha Pemurah dan Pengasih. Dia juga Maha Kuasa dan Pemberi hukuman. Ketika Allah melihat jamaah yang pernyataan dan bualan mereka tidak sesuai dengan keadaan perbuatan mereka, maka Dia akan marah (61:3, pent.). Kemudian Dia memilih orang kafir untuk menghukum jamaah itu. Orang yang kenal sejarah tentu mengetahui, berkali-kali orang Islam terbunuh dengan pedang orang kafir. Seperti Jenghis Khan dan Hulagu Khan menghancurkan umat Islam. 

Meskipun Allah Ta'ala telah menjanjikan perlindungan dan dukungan kepada umat Islam, tapi tetap saja umat Islam terkalahkan. Peristiwa seperti itu sering terjadi. Sebabnya, ketika Allah melihat umat berseru _Laa ilaaha illallooh_ (Tidak ada Tuhan kecuali Allah), tetapi hati mereka berpaling ke hal lain, dan perbuatan mereka benar-benar fokus dan terpaku pada keduniaan, maka Allah menunjukkan kemarahan-Nya.


Manusia yang takut kepada Allah (takwa) bisa dilihat dan dikenali dari kesesuaian antara perkataan dengan perbuatannya. Jika perkataan dengan perbuatannya tidak sama, maka ketahuilah itu akan mendatangkan murka Ilahi. Hati yang tidak suci, meski seberapa pun bersih kata-katanya, hati itu tidak ada harganya di mata Allah, bahkan akan mengobarkan murka Allah.

Maka pahamilah jamaahku, mereka telah datang kepadaku untuk menabur benih, dengan harapan agar menjadi pohon yang berbuah. Setiap orang hendaklah memikirkan bagaimana keadaan dalam dirinya, bagaimana keadaan batinnya. Apabila keadaan lisan jamaah kita berbeda dengan keadaan hati mereka, maka tidak akan berakhir dengan baik. Ketika Allah Ta'ala melihat jamaah yang hanya menyampaikan pernyataan-pernyataan lisan tetapi kosong hati mereka, Dia Yang Maha Kaya tidak peduli pada mereka.


Kemenangan perang Badar telah dinubuatkan. Bagaimana pun ada harapan kemenangan. Tetapi tetap saja Nabi Muhammad saw. menangis dan berdoa di hadapan Allah. Abu Bakar Shiddiq r.a. bertanya bahwa ketika ada janji kemenangan, lalu apa perlunya doa? Nabi Muhammad saw. menjawab bahwa Allah Maha Kaya, boleh jadi ada beberapa syarat tersembunyi dalam janji Ilahi.


Hendaklah selalu dilihat, seberapa jauh peningkatan takwa dan kesucian kita. Standarnya adalah Quran Syarif. Allah Ta'ala telah menunjukkan salah satu tanda dari antara tanda-tanda orang bertakwa, yaitu dia bebas dari kekotoran serta kekejian dunia, dan perbuatan-perbuatannya menjadi jaminan bagi diri sendiri. Sebagaimana difirmankan oleh Allah:


وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ -


"Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia mengatur jalan keluar baginya. Dan Dia memberi rezeki kepadanya dari arah yang tak dia sangka-sangka." 

(Ath-Thalaq, 65:2-3).

Allah Ta'ala memberi jalan keluar atau jalan pelepasan dari setiap musibah atau kesulitan, kepada orang yang takut kepada Allah (takwa). Allah Ta'ala juga mengadakan rezeki untuknya yang tidak ada dalam pengetahuan dan angan-angannya.

Tanda orang bertakwa yang lain, dia tidak membutuhkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya, seorang penjaga toko berpikir bahwa tanpa berbohong usahanya tidak bisa berjalan. Karena itu dia tidak berhenti dari berbohong. Selain itu, dia juga menyatakan bahwa terpaksa untuk berbohong. Tetapi hal itu tidak benar sama sekali. Allah Ta'ala menjadi pelindung orang bertakwa dan menyelamatkannya dari hal yang memaksanya melawan kebenaran.

Ingatlah, ketika seseorang meninggalkan Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala pun meninggalkannya. Ketika Allah Yang Maha Pemurah meninggalkannya, maka pasti setan akan membangun hubungan dengannya. Jangan kamu anggap Allah Ta'ala itu lemah. Dia adalah Zat Yang Maha Kuat. Ketika kamu mempercayai-Nya dalam suatu perkara, Dia pasti akan membantumu. 

Allah Ta'ala berfirman:


وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ  فَھُوَ حَسْبُهُ


"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia sudah cukup baginya."

(Ath-Thalaq, 65:3).

Orang-orang yang segenap pikirannya hanya untuk urusan agama, dan urusan duniawi mereka percayakan kepada Allah, maka Allah Ta'ala menghibur mereka bahwa Dia menyertai mereka.

(Manzur Ilahi / Malfuzat Ahmadiyyah jld. 2, hlm. 26-28).

Tanda-tanda Kekasih Allah

 


Pernyataan dari setiap umat bahwa banyak di antara mereka yang mencintai Allah. Tapi perlu bukti, apakah Allah juga mencintai mereka atau tidak?


Tanda-tanda para kekasih Allah yang pertama adalah, tabir yang menyelimuti hati mereka diangkat atau dilepaskan. Disebabkan oleh tabir itu, manusia tidak percaya adanya Allah Ta'ala. Dengan pengetahuan dan pengenalan yang samar dan gelap, mereka bingung tentang keberadaan Allah. Bahkan kadang-kadang pada saat ada cobaan mereka mengingkari adanya Allah. Tabir yang menutupi hati itu tidak dapat diangkat kecuali dengan cara mereka berkomunikasi dengan Allah (menerima wahyu).

Jadi manusia menyelam ke dalam sumber pengetahuan dan pengenalan sejati, pada hari Allah berwawansabda dengan manusia dan memberinya kabar baik tentang keberadaan-Nya. Maka pengenalan manusia tentang Allah tidak terbatas pada angan-angan. Sebaliknya, dia begitu dekat dengan Allah Ta'ala sehingga seolah-olah melihat-Nya. Memang benar dan mutlak benar, iman yang sempurna kepada Allah Ta'ala manusia dapatkan pada waktu Allah Ta'ala memberitahukan tentang keberadaan-Nya.


Tanda para kekasih Allah yang kedua adalah, Allah tidak hanya memberitahu hamba-hamba-Nya yang terkasih tentang keberadaan-Nya, tetapi Dia juga menunjukkan tanda-tanda rahmat dan berkah-Nya kepada mereka khususnya. Sedemikian besar rahmat dan berkah-Nya, sehingga Dia mengabulkan doa-doa mereka yang lebih dari sekedar harapan-harapan lahiriah. Dengan ilham dan kalam-Nya Dia memperkenalkan kepada mereka, kemudian hati mereka teryakinkan bahwa Dia Tuhan mereka Yang Mahakuasa, mendengar doa-doa mereka, memberitahu mereka dan menyelamatkan mereka dari berbagai kesulitan. Sejak hari itu, mereka juga memahami masalah keselamatan dan mengetahui adanya Allah Ta'ala. Meskipun terkadang orang lain juga mengalami mimpi yang benar untuk membangunkan dan memperingatkan, tetapi derajat, keutamaan dan macamnya berbeda. Wawansabda atau percakapan Allah hanya dengan orang-orang yang dekat dengan-Nya. Ketika manusia yang dekat dengan Allah berdoa, maka Allah Ta'ala memanifestasikan diri-Nya dengan kemuliaan ketuhanan-Nya kepadanya dan Dia menurunkan Ruh- Nya, dengan kata-kata penuh cinta Dia memberikan kabar gembira tentang pengabulan doa itu.

Orang yang sering mengalami komunikasi dengan Allah (menerima wahyu) disebut nabi atau muhaddats.


Tanda agama yang benar adalah, ajaran agama itu menghasilkan orang-orang tulus yang bisa mencapai derajat muhaddats, yang dengan tatap muka bisa berkomunikasi dengan Allah Ta'ala.

Tanda pertama kebenaran Islam adalah, dalam Islam selalu lahir orang-orang tulus yang dengannya Allah berfirnan.

Allah Ta'ala  berfirman:


تَتَنَزَّلُ عَلَيْھِمُ الْمَلٰٓءِكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا


" Para Malaikat akan turun kepada mereka, ucapnya: Jangan takut dan jangan berdukacita." 

(Ha Mim, 41:30).

Jadi inilah standar agama yang benar, hidup dan makbul.

(Hujjatul Islam, hlm. 2).

Tobat dan Istighfar

 


Manusia sangat lemah dalam fitrahnya. Tapi banyak sekali beban hukum Allah Ta'ala yang diletakkan di pundaknya. Sebab itu, sudah menjadi fitrahnya bila dia mungkin bisa gagal dalam melaksanakan dan mematuhi sebagian hukum, karena kelemahannya.

Terkadang beberapa keinginan nafsu amarah mengalahkannya.

Karena kelemahan fitrahnya, maka manusia memiliki hak, ketika terpeleset dalam perbuatan salah dan dosa, dia bisa bertobat dan beristighfar (mohon pengampunan). Apabila manusia bertobat dan beristighfar, maka dengan rahmat-Nya Allah menyelamatkannya dari kebinasaan. Pasti, seandainya Allah bukan penerima tobat, maka beban hukum Allah yang banyak sekali itu tidak akan pernah diberikan pada manusia.


Tanpa ada keraguan, terbuktilah bahwa Allah adalah Penerima tobat ( _At-Tawwaab_) dan Pengampun dosa ( _Al-Ghofuur_).

Tobat berarti pengakuan seseorang untuk meninggalkan kejahatan, dan penegasan bahwa sesudah itu seandainya dia dilemparkan ke dalam api sekali pun, dia tidak akan pernah melakukan lagi kejahatan. Tatkala manusia dengan tulus dan tekad yang kuat kembali kepada Allah Ta'ala (tobat), maka Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih mengampuni dosanya dan membatalkan hukuman atau siksaannya. 

Suka menerima tobat dan menyelamatkan dari kehancuran merupakan salah satu sifat utama Allah.


Jika manusia tidak ingin bertobat dan tidak punya harapan untuk diterima tobatnya, maka dia tidak akan berhenti dari perbuatan dosa.

Agama Kristen juga mengakui tentang  penerimaan pertobatan. Tetapi dengan syarat yang menyatakan tobat seorang Kristiani. Namun dalam Islam tidak ada syarat agama tertentu untuk tobat. Dengan mengikuti agama masing-masing tobat seseorang bisa diterima. Dosa yang tersisa hanyalah dosa orang yang mengingkari Kitab Allah dan Utusan Allah.

Sama sekali tidak mungkin manusia bisa menemukan keselamatan hanya dengan perbuatannya. Sebaliknya, termasuk kemurahan Allah bahwa Dia menerima tobat seseorang. Dengan karunia-Nya Allah memberi seseorang kekuatan untuk tobat, sehingga dia terlindungi dari dosa.

(Chasma-i Ma'rifat, hlm. 181-182).


Ingatlah, menolak tobat dan pengampunan hakikatnya menutup pintu kemajuan manusia. Karena jelas bagi setiap orang bahwa manusia sempurna tidak dengan sendirinya, tetapi membutuhkan penyempurnaan.

Seperti manusia dalam keadaan lahiriahnya, dia lahir dan secara bertahap memperluas pengetahuannya. Bukan lahir sudah menjadi orang terpelajar. Sama halnya, saat manusia lahir dan memperoleh kecerdasan, keadaan akhlaknya sangat rendah. Karena itu ketika seseorang memerhatikan keadaan anak-anak, dengan gamblang dia akan mengerti bahwa kebanyakan anak mempunyai sifat serakah dan iri hati. Sehingga saat ada sengketa sedikit saja mereka cenderung memukul anak lainnya. Mereka sering berbohong, menunjukkan kebiasaan melecehkan dan mencaci maki anak-anak lain. Beberapa anak memiliki kebiasaan mencuri, bergosip, dengki dan kikir. Kemudian setelah mereka memasuki masa muda, ketika bergolak semangat jiwa muda mereka, nafsu amarah menunggangi mereka. Sering kali terungkap perbuatan keji mereka, yang jelas tergolong perbuatan dosa.


Singkatnya, bagi kebanyakan manusia, pada awalnya mereka mengalami kehidupan kotor. Kemudian ketika manusia yang beruntung keluar dari banjir bandang kehidupan awal, dia lalu kembali kepada Tuhannya, melakukan pertobatan sejati, berpaling dari hal-hal yang tidak layak dilakukan, dan kembali memikirkan untuk penyucian "pakaian fitrahnya".

Inilah umumnya riwayat hidup manusia yang dialami oleh umat manusia.

Jadi jelas, seandainya benar tidak ada penerimaan tobat, berarti tidak ada keinginan Allah untuk menyelamatkan manusia.

(Chasma-i Ma'rifat, hlm. 184).