Sabtu, 03 April 2021

Mengapa Kita Berpuasa?



Allah Ta'ala berfirman:


شَھْرُ رَمَضَانَ الَّذِىْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ ھُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْھُدٰى  وَالْفُرْقَانِ . فَمَنْ شَھِدَ مِنْكُمُ الشَّھْرَ فَلْيَصُمْهُ .


"Bulan Ramadhan ialah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan tanda bukti yang terang tentang petunjuk itu dan pemisah. Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa." (Al-Baqarah, 2:185).


Dalam firman Ilahi itu terdapat perintah Allah agar orang (beriman) yang menyaksikan atau menemui bulan Ramadhan, menjalankan puasa.


Orang yang menjalankan puasa pada bulan Ramadhan dengan tulus, sesuai dengan kehendak Allah dan sunah Rasulullah Muhammad saw. insyaAllah akan mendapatkan rahmat dan pengampunan dari Allah, serta terbebas dari neraka.


Tujuan utama puasa adalah untuk mengurangi ketergantungan manusia pada materi, dan memperkuat tekad spiritualnya untuk bisa mencapai tataran iman dan takwa yang lebih tinggi.

Berpuasa selama Ramadhan adalah kesempatan emas untuk berkonsentrasi pada perbuatan baik dan menjauhkan diri dari keburukan.


Meskipun puasa ditentukan hanya selama sebulan setiap tahun, tetapi semangat dan pengaruh puasa bisa bertahan lebih lama.

Puasa membawa manusia lebih dekat dengan Tuhan. Puasa menunjukkan kepada manusia bagaimana cara menarik diri dari dunia, sedangkan dia masih menjadi bagian dari dunia. Puasa menunjukkan kepada manusia cara untuk memenuhi kewajiban spiritualnya, dalam kegaduhan dunia materialistik. Pendek kata, puasa Ramadhan merupakan salah satu cara untuk mencapai ketenangan jiwa.


Puasa hakikatnya bukan hanya sekedar meninggalkan kegiatan makan, minum dan hubungan seksual dari waktu subuh hingga matahari terbenam, tetapi lebih dari itu, yaitu melatih dan menyadarkan hati kita untuk bisa menahan diri dari segala macam keburukan, selama hidup kita.

Ketika kita berpuasa, ketika kita meninggalkan kegiatan makan, minum dan semua yang membatalkan puasa, pada waktu yang sama kita seharusnya juga bertanya pada diri sendiri:

Apakah kita sudah meninggalkan pikiran-pikiran negatif? Apakah kita sudah meninggalkan kebiasaan suka mengeluh? Apakah kita sudah meninggalkan kebohongan? Apakah kita sudah meninggalkan kemarahan demi Allah? dsb.


Puasa berfungsi sebagai pelatihan untuk dua hal pada waktu yang sama, yaitu menanamkan semangat syukur dan menanamkan rasa takut kepada Allah dalam hati orang beriman.


Makanan dan minuman adalah karunia besar dari Allah. Pada saat berpuasa, orang beriman tidak menyentuh mereka meskipun merasakan lapar dan haus sepanjang siang hari. Barulah pada waktu matahari terbenam, dia makan dan minum sampai hilang rasa lapar dan hausnya. Dia kemudian menyadari melalui pengalamannya sendiri, betapa besar karunia Allah yang berupa makanan dan minuman. Pengalaman ini menghasilkan rasa syukur kepada Allah Ta'ala.


Selain itu, puasa juga berfungsi sebagai bentuk pelatihan untuk kehidupan yang takut akan Allah, yang diwujudkan dengan menjauhkan diri dari segala macam dosa dan perbuatan jahat yang dilarang Allah.

Berpantang sama sekali dari makanan, minuman dan hal-hal tertentu, mulai dari waktu subuh hingga matahari terbenam, selama bulan Ramadhan, adalah pelatihan sementara bagi orang beriman. Diharapkan, selama masa hidupnya dia secara permanen bisa meninggalkan semua hal yang tidak dikehendaki dan dilarang oleh Allah.


Puasa pada dasarnya amalan kesabaran, termasuk kesabaran dalam menanggung segala macam kesulitan untuk melaksanakan perintah Allah. Hal ini membantu manusia untuk mencapai keadaan jiwa yang lebih dekat dengan Tuhan. Hanya orang yang menemukan Tuhan dan dekat dengan-Nya, yang mudah menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.


Perintah untuk berpuasa diikuti dengan perintah untuk tidak makan harta sesama manusia dengan cara yang tidak sah. (2:188).

Hal ini menunjukkan bahwa esensi dan tujuan puasa adalah untuk melahirkan perasaan tunduk dan patuh kepada Allah.

Puasa memberikan pelajaran kepada kita bahwa ketika Allah menginginkan kita untuk menjauhi hal-hal yang halal sekalipun, kita harus tidak ragu-ragu dalam mematuhi-Nya. Contohnya, minuman teh itu halal. Tetapi bila Allah melarang kita minum teh di waktu siang karena kita sedang berpuasa, maka kita pun akan mematuhi Allah, dan tidak akan meminum teh itu.

Bagi orang yang bisa menjauhkan diri dari hal yang halal, tentu tidak akan mengalami kesulitan untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang haram.


Semoga hati kita dicondongkan untuk merasa ringan dan senang menjalankan ibadah puasa. Sehingga kita bisa dekat dengan Allah. Sesungguhnya prestasi terbesar bagi manusia adalah kedekatannya dengan Allah.


                                        -----

Manajemen Kemarahan



Kemarahan selain menjadi masalah personal bisa juga menjadi masalah sosial. Kemarahan merupakan fenomena yang dapat ditemukan di setiap masyarakat. Kemarahan yang tidak terkendali, selain bisa menimbulkan kerugian bagi diri sendiri, juga bisa menyebabkan kerenggangan dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, untuk bisa menjadi manusia yang paling mulia di sisi Allah, menjadi manusia yang bertakwa, kita harus dapat mengendalikan kemarahan.

Allah Ta'ala berfirman:


وَسَارِعُوْآ اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُھَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ . اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ، وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ .


"Dan cepat-cepatlah menuju pengampunan dari Tuhanmu, dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menginfakkan (harta) pada waktu lapang dan waktu sempit, dan orang-orang yang menahan kemarahan, dan orang-orang yang memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." (Ali Imran, 3:133-134).


Dalam firman Allah itu, disebutkan ciri-ciri orang bertakwa. Salah satu ciri orang bertakwa adalah dia mampu menahan kemarahan. Jadi, orang bertakwa,  bukan berarti orang yang tidak punya rasa marah, melainkan orang yang punya rasa marah tetapi mampu mengendalikannya, setiap kali kemarahan itu muncul dan membara di dalam hati.


Manusia itu makhluk sensitif yang dianugerahi intuisi. Dengan intuisinya manusia mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Jadi wajar, ketika manusia melihat beberapa perilaku jahat, yang tidak bermoral, dia menjadi terganggu. Tetapi dalam situasi seperti itu, ada dua pilihan, yaitu menunjukkan reaksi negatif atau memberikan reaksi positif. Kemarahan merupakan reaksi negatif. Orang bertakwa, sekalipun dalam kondisi terganggu, dia tetap mempunyai kemampuan untuk memberikan respons positif dan mengembangkan kasih sayang.


Nabi Muhammad saw. memberikan beberapa petunjuk praktis untuk mengatasi kemarahan, yaitu:

1. Ketika marah, seseorang hendaklah mengucapkan ta'awudz, 

اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيِمِ 

"Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." 

(lihat Sahih al-Bukhari 6115).

2. Ketika marah, seseorang hendaklah mengubah keadaan atau posisi tubuhnya.

"Apabila salah seorang di antara kamu marah dalam keadaan berdiri, hendaklah dia duduk. Bila kemarahannya bisa hilang itu baik. Kalau tidak, hendaklah dia berbaring."

(Sunan Abi Dawud 4782).

3. Ketika marah, seseorang hendaklah mencoba untuk tidak berbicara dan tetap diam.

"Jika kalian marah, diamlah." (HR. Ahmad).

4. Ketika marah, seseorang hendaklah segera berwudhu.

"Sesungguhnya marah itu dari setan, setan itu diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang di antara kamu marah, dia hendaklah berwudhu."

(Sunan Abi Dawud 4784).


Selain mengamalkan cara pengendalian kemarahan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw. itu, tidak ada salahnya bila kita juga melakukan cara-cara lain yang insyaAllah bermanfaat untuk meredam emosi dan meredakan kemarahan, misalnya:

1. Saat kemarahan sedang memuncak, kita memejamkan mata secara perlahan, lalu menarik napas panjang dari hidung dan mengeluarkannya secara perlahan dari mulut. Perbuatan ini bisa diulang beberapa kali.

2. Saat kemarahan sedang memuncak, kita bangkit dari duduk dan berjalan-jalan sejenak, menjauhi sumber kemarahan atau kekesalan.

3. Saat kemarahan sedang memuncak, kita menekan secara perlahan dengan ibu jari bagian dalam telapak tangan yang terletak di antara ibu jari dengan telunjuk.

4. Saat kemarahan sedang memuncak, kita mengendorkan otot-otot yang tegang. Misalnya, dengan menggerakkan bahu ke belakang, memutar leher searah atau berlawanan arah dengan jarum jam, memutar tubuh ke kanan dan ke kiri.


Semoga dengan mengamalkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, kita bisa mengendalikan kemarahan dan luapan emosi yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Aamiin.


                                     ---ooOoo---

Allah Tidak Akan Meninggalkan Hamba-Nya yang Tulus



Pada periode awal misi Nabi Muhammad saw., ketika beliau dan para sahabat beliau menghadapai kesulitan besar di Mekah yang nyaris menyebabkan keputusasaan dan frustrasi, saat itu situasinya sangat suram. Para sahabat mulai bertanya dalam hati, apakah misi ini memasuki jalan buntu? Saat kritis itu bertepatan dengan waktu pemberhentian wahyu (fatratul wahyi). Selama itu, Nabi Muhammad saw. tidak menerima wahyu. Kemudian, Allah Ta'ala menurunkan wahyu surat Adh Dhuha (surat ke-93). Sebagian ayat dalam surat Ad Dhuha adalah,


وَالضُّحٰى . وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰى . مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰى . وَلَلْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰى .


"Demi terangnya waktu siang. Dan demi malam tatkala sunyi senyap. Tuhanmu tidak meninggalkanmu, dan tidak benci denganmu. Dan sesungguhnya yang akhir itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan."

(Adh-Dhuha, 93:1-4).


Sebelum turunnya wahyu surat Adh-Dhuha itu, sempat ada kegelisahan dan kekhawatiran dalam batin Nabi Muhammad saw., bahwa jangan-jangan penghentian turunnya wahyu itu  karena Allah tidak berkenan atau kecewa pada beliau. Ternyata hal itu terjadi semata-mata karena kebijaksanaan Allah Ta'ala. 


Di satu sisi, surat Adh-Dhuha itu mengandung kata-kata hiburan dan jaminan dari Allah Ta'ala bahwa Allah tidak meninggalkan Nabi Muhammad saw. dan para pengikut beliau yang setia. Keadaan hidup beliau dan para pengikut beliau yang setia di akhir akan lebih baik daripada di awal.


Di sisi lain, surat Adh-Dhuha itu mengandung nubuat bahwa pada zaman akhir Islam (umat Islam) mengalami kemunduran. Tetapi Allah memberikan jaminan bahwa Dia tidak akan meninggalkan perkara Islam (umat Islam sejati).

Penafsiran ini diberikan dengan dasar, dalam susunan ayat lebih dulu disebutkan wadh dhuhaa (demi terangnya siang) yang mengibaratkan terangnya kejayaan Islam pada zaman Nabi Muhammad saw. dan sahabat, serta berlanjut pada generasi tabi'in dan tabi'ut tabi'in. Kemudian diikuti wal laili idzaa sajaa (demi malam tatkala sunyi senyap) yang mengisyaratkan kemunduran Islam (umat Islam) pada zaman akhir. Kemudian disusul dengan ayat yang intinya Allah tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad saw. dan Islam.


Beberapa ayat Quran dalam surat Adh-Dhuha itu menunjukkan fenomena alam. Karena rotasi planet bumi pada porosnya, hal itu membuat ada pergantian yang ajek siang dan malam. Fenomena alam ini mengandung pelajaran berharga untuk kehidupan kita. Pergantian siang dan malam melambangkan pergantian pengalaman positif dan pengalaman negatif.


Dalam kehidupan kita, ada malam yang gelap dan pagi serta siang yang cerah, ada keputusasaan dan harapan, ada rintangan dan jalan keluar. Semua itu mengingatkan bahwa kita seharusnya tidak menjadi kurban rasa frustrasi, karena hanya melihat keadaan pada saat ini. Kita harus mempunyai harapan tentang masa depan.


Seperti waktu malam itu sementara, sesudahnya akan datang pagi yang cerah. Begitu pula waktu sekarang hanya sementara, bisa diyakini setelah beberapa hari akan ada masa depan yang cerah.

Jadi kebijakan terbaik bagi kita adalah bekerja keras di masa sekarang, dan mengharap serta meyakini bahwa pada suatu hari yang akan datang kesuksesan akan datang dan bisa kita raih.


Masa hidup bisa dibagi menjadi dua bagian, masa perjuangan dan masa kesuksesan. Masa perjuangan atau masa kesulitan ibarat malam. Masa kesuksesan atau masa kemudahan ibarat siang.

Malam yang gelap tentu bergerak menuju ke pagi yang cerah. Demikian pula dalam kehidupan manusia, perjuangan saat sekarang tentu diperlukan untuk menuju kesuksesan di masa depan.

Semoga kita termasuk orang yang memiliki optimisme tinggi dalam menghadapi dinamika hidup ini, sehingga akhirnya mencapai kesuksesan. Aamiin.


                                              --- ooo ---

Isra' Mi'raj Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad saw.



Setiap tahun, pada 27 Rajab, sebagian umat Islam di berbagai belahan dunia, biasanya merayakan peringatan Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad saw., yaitu sebuah peristiwa bersejarah dan pengalaman spiritual yang terjadi dalam kehidupan Nabi Muhammad saw.


Peristiwa Isra' dan Mi'raj terjadi setelah tahun duka cita ('amul huzn), yaitu tahun kewafatan Abu Thalib, paman Nabi Muhammad saw. dan Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad saw.

Kira-kira setahun sebelum Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah, beliau dan para pengikut beliau menghadapi tekanan dan kesulitan yang semakin besar di Mekah. Kondisinya sangat tidak kondusif. Pada saat beliau dalam keadaan tak berdaya, dan seakan-akan berakhirlah sejarah Islam, Allah Ta'ala berkenan menunjukkan ayat-ayat-Nya (tanda-tanda-Nya) kepada beliau melalui peristiwa Isra' dan Mi'raj (17:1).


Tatkala Allah menetapkan Nabi Muhammad saw. untuk melakukan perjalanan  secara spiritual (ruhaniah) pada waktu malam ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), Allah mengumpulkan semua Nabi sebelum beliau di sana. Kemudian mereka melakukan shalat berjamaah dengan diimami oleh Nabi Muhammad saw. Peristiwa ini melambangkan bahwa syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. akan menang dan unggul di atas syariat atau ajaran agama semua nabi sebelum beliau. Ajaran Islam dari Nabi Muhammad saw. ditetapkan sebagai sumber petunjuk Allah yang sempurna dan otentik, serta menjadi rujukan bagi semua umat manusia.


Ketika Nabi Muhammad saw. memberitahukan perjalanan spiritualnya ke Masjidil Aqsha di Palestina (Yerusalem), ada sebagian orang, terutama kaum kafir Quraisy yang tidak percaya dan meminta beliau untuk menjelaskan secara detail tentang Masjidil Aqsha.

Pada saat itu, seluruh bagian Masjidil Aqsha diperlihatkan oleh Allah dalam kasyaf yang beliau alami, dan beliau menjawab permintaan orang-orang kafir Quraisy yang tidak percaya itu. 

Hal itu ditegaskan dalam hadis:

"Ketika kaum Quraisy tidak mempercayai aku, aku berdiri di Hijr, lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis di depanku, dan aku mulai menjelaskannya kepada mereka tanda-tanda (Baitul Maqdis) yang mereka tanyakan kepadaku, sambil aku melihat padanya." (Sahih al-Bukhari 3886).


Peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad saw. termasuk pengalaman ruhani.

Pengalaman ruhani itu bisa melalui ru'yah (mimpi), bisa juga melalui kasyaf. Apa bedanya ru'yah dengan kasyaf? Dalam ru'yah (mimpi) manusia mengalami sesuatu dengan indra ruhaninya dalam keadaan tidur. Sedangkan dalam kasyaf manusia mengalami sesuatu dengan indra ruhaninya dalam keadaan terjaga. Dalam kasyaf seseorang dapat melihat manifestasi Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan alam lain dengan penglihatan ruhani, suatu kemampuan yang diberikan oleh Allah kepada para nabi dan wali.


Dalam Quran, surat Bani Israil, yang di dalamnya ada penjelasan tentang Isra' Nabi Muhammad saw. (17:1), juga terdapat penjelasan tentang orang-orang kafir yang tidak akan beriman (percaya) kepada Nabi Muhammad saw., kecuali kalau beliau memenuhi salah satu dari enam alternatif permintaan mereka. Salah satu alternatif permintaan orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad saw. itu, adalah agar beliau naik ke langit (secara fisik) dan menurunkan satu kitab dari langit yang bisa mereka baca. Nabi Muhammad saw. menjawab beberapa alternatif permintaan mereka dengan mengatakan, "Maha Suci Tuhanku! Bukankah aku ini hanya manusia biasa yang menjadi Rasul?" (17:90-93).

Intinya, Nabi Muhammad saw. menolak dengan tegas beberapa alternatif permintaan kaum kafir. Karena semua itu di luar kuasa dan peran beliau sebagai manusia biasa yang menjadi Rasul. Menurut Kitab Suci, kenaikan manusia ke langit secara jasmaniah, seperti yang diminta kaum kafir itu bertentangan dengan sunatullah. Karena seorang manusia biasa meskipun sebagai Utusan Allah tidak diberi kuasa dan kemampuan untuk melakukan keajaiban seperti itu.

Seandainya Nabi Muhammad saw. naik ke langit secara jasmaniah dalam peristiwa mi'raj, tentu beliau tidak akan memberikan jawaban kepada kaum kafir dengan ucapan, "Maha Suci Tuhanku! Bukankah aku ini hanya manusia biasa yang menjadi Rasul?" 


Peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad saw. selain menunjukkan kedekatan dan kecintaan Allah yang tiada tara pada Nabi Muhammad saw., juga terutama untuk memperlihatkan ketinggian ruhani Nabi Muhammad saw. Beliau terangkat pada puncak kehormatan tertinggi, terangkat pada posisi yang tidak pernah dan tidak akan pernah dicapai oleh siapa pun hingga Kiamat.


Dalam peristiwa mi'raj, setelah Nabi Muhammad saw. melewati langit pertama hingga ketujuh, beliau sampai di Sidratul Muntaha. Di sini beliau bisa berhubungan dekat dengan Allah dan melakukan percakapan langsung dengan-Nya.


Mungkin timbul pertanyaan, apakah manusia dapat melihat Allah dengan mata jasmaninya?

Kita mengacu pada percakapan yang terjadi antara Nabi Musa as. dengan Allah, ketika Nabi Musa as. mendesak untuk melihat-Nya. Disebutkan dalam Quran, Al-A'raf, 7:143, intinya:

Musa as. memohon agar Allah memperlihatkan diri, supaya dia bisa melihat-Nya. Allah berfirman bahwa Musa as. tidak dapat melihat-Nya. Tetapi Allah nenyuruh Musa as. untuk melihat gunung. Jika gunung itu tetap tegak di tempatnya, tentu Musa as. akan melihat Allah. Tatkala Allah menampakkan diri pada gunung, gunung itu menjadi berkeping-keping. Musa as. jatuh pingsan. Setelah sadar dia berkata: Maha Suci Engkau (Allah). Musa kembali kepada Allah dengan bertobat, dan beriman kepada Allah.


Ternyata mata jasmani manusia tidak dapat melihat Allah. Dalam peristiwa mi'raj Nabi Muhammad saw. melihat Allah bukan dengan mata jasmani, tetapi dengan  mata ruhani.

Mata manusia tidak bisa melihat matahari dengan cahayanya yang menyala dan terang sekali. Tetapi jika matahari dengan sinarnya itu dipantulkan melalui  cermin atau air yang jernih, maka mata telanjang pun dapat melihatnya (bayangannya). Jadi mata manusia yang tidak dapat melihat sesuatu secara langsung, ia dapat melihatnya melalui media (perantara) yang dapat menunjukkannya dalam rupa bayangannya.

Begitu pula dalam hal melihat Allah, kasyaf berfungsi sebagai medianya. Dalam kasyaf, manusia dapat melihat-Nya (melihat sinyal keberadaan-Nya) dengan mata rohaninya.


                                         ---oOo---

Selasa, 16 Februari 2021

Menyikapi Keberhasilan

 


Biasanya manusia merasa bahagia ketika mencapai keberhasilan. Tetapi perlu diingat bahwa keberhasilan dan kebahagiaan di dunia tidaklah abadi. Boleh jadi masa kebahagiaan itu pelan-pelan berubah menjadi masa kepahitan atau penderitaan.

Keberhasilan di dunia tidak bebas dari cobaan atau ujian. Dengan kata lain, keberhasilan itu mungkin bisa menjadi ujian bagi manusia. Karena cobaan atau ujian hidup itu tidak selalu berupa kegagalan dan penderitaan, tetapi bisa juga berupa keberhasilan dan kebahagiaan.

Allah Ta'ala berfirman:


اَلَّذِىْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاً .


"(Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, agar Ia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik perbuatannya."

(Al-Mulk, 67:2).

Allah ingin mengetahui siapakah manusia yang paling baik perbuatannya, dengan cara memberi ujian kepadanya berupa kegagalan (serupa kematian) dan kesuksesan (serupa kehidupan).


Manusia dapat digambarkan seperti anak panah. Anak panah itu bisa meluncur jauh dengan terlebih dahulu ditariknya ke belakang. Begitu pula manusia, bisa maju dan meningkat dengan pesat dengan adanya kegagalan dan kesulitan yang menyeretnya ke belakang. Tetapi dengan pandainya manusia mengambil pelajaran dari kegagalan dan kesulitan itu, dia bisa menemukan kekuatan yang dahsyat untuk maju dan mencapai kesuksesan. "Setiap kesulitan mengandung pelajaran, dan setiap pelajaran bisa mengubah seseorang."

Semoga kita termasuk orang yang cerdas dalam menghadapi kegagalan.


Orang beriman setelah pernah mengalami kegagalan, dengan sikapnya yang benar dalam  menghadapi kegagalan, dia kemudian bisa memperoleh keberhasilan dan keberuntungan. Imannya kepada Allah Ta'ala pun meningkat. 

Bagi orang beriman, keberhasilan duniawi bisa menjadi penyebab untuk mengenal Allah. Keberhasilan duniawi bisa menjadi sarana untuk mencapai keberhasilan hakiki yang dalam istilah Islam disebut falaah.

Keberhasilan dan kebahagiaan hakiki didapatkan ketika manusia mengenal Allah dan dekat dengan-Nya. Pada saat itu, manusia seakan-akan sudah tidak lagi membutuhkan hal-hal yang lain karena telah tercukupi dengan kedekatannya dengan Allah.

Kebahagiaan sejati dan abadi tidak terikat sepenuhnya dengan hal-hal duniawi. Oleh karena itu, kita tidak boleh terlalu senang dan terlena dengan keberhasilan duniawi, keberhasilan yang bersifat sementara, seperti harta berlimpah, jabatan tinggi, rumah megah, kendaraan mewah dsb. 

Marilah kita kejar keberhasilan hakiki. Kita jadikan keberhasilan duniawi itu sebagai sarana untuk mengenal Allah. Janganlah kita terlalu membanggakan kekuatan dan usaha kita. Jangan difahami bahwa keberhasilan itu sebagai hasil dari kemampuan dan kerja keras kita sendiri. Tetapi berpikirlah bahwa keberhasilan itu terwujud karena Allah Yang Maha Pengasih, Yang tidak pernah menyia-nyiakan usaha seseorang memberikan buah balasan pada usaha kita.


Kita, orang beriman setiap memperoleh keberhasilan seharusnya melakukan sujud syukur atau bersyukur di hadapan Allah Ta'ala dan memuji-Nya. Karena Dia tidak menyia-nyiakan usaha keras kita dan melimpahkan karunia-Nya kepada kita. Syukur itu akan membuahkan peningkatan iman dan cinta kita kepada Allah Ta'ala. Tidak hanya itu, bahkan orang yang bersyukur akan memperoleh keberhasilan yang lebih banyak. 

Allah berfirman, artinya:

"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku berikan (nikmat) kepadamu lebih banyak lagi; dan jika kamu mengingkari (nikmat itu), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat." 

(Ibrahim, 14:7).


Keberhasilan orang kafir dan orang beriman, tampaknya serupa, tetapi sebenarnya berbeda. Keberhasilan orang kafir cenderung mengarah ke jalan kesesatan. Sedangkan keberhasilan orang beriman merupakan kunci untuk membuka pintu rahmat dan berkah Ilahi.

Keberhasilan orang kafir mengarah pada kesesatan, karena dengan keberhasilan itu dia tidak kembali dan mendekat kepada Allah, bahkan sebaliknya dia mempertuhan usaha, pengetahuan dan kemampuannya. Sedangkan orang beriman dengan keberhasilan itu dia kembali kepada Allah dan mendekat-Nya. Kemudian dia bertambah kenal dengan Allah. Setiap dia memperoleh keberhasilan, terjadilah hubungan baru dengan Allah. Dia terus mengalami perubahan dan peningkatan sehingga menjadi orang bertakwa. 

Allah berfirman, artinya:

"Ketahuilah, sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang bertakwa." 

( At-Taubah, 9:36).

Barangsiapa mendahulukan Allah, maka Allah pun akan mendahulukan dia dan menyelamatkan dia dari segala macam kehinaan di dunia dan akhirat. Singkatnya, jika manusia ingin selamat dari segala macam kehinaan dan kesulitan di dunia dan akhirat, jalannya adalah bertakwa.


                                        ---

Menegakkan Perdamaian dan Persaudaraan

 


اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ .


"Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara, maka berdamailah di antara saudara-saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."

(Al-Hujurat, 49:10).


Selanjutnya, dijelaskan juga dalam Quran, surat An-Nisa' (4) ayat 114, yang intinya: Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan percakapan, kecuali percakapan orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat baik atau melakukan  perdamaian di antara manusia.


Dari kedua firman Allah itu, kita bisa mengerti bahwa Allah menghendaki agar kita mengutamakan persaudaraan, perdamaian, ketakwaan, perbuatan baik, dan sedekah. Dengan demikian insyaAllah kita akan memperoleh rahmat dan ridha Allah SWT.


Dalam kehidupan di masyarakat, kita sering mendapatkan pengalaman buruk atau perlakuan buruk dari orang lain. Misalnya, kita dibohongi, dihina, difitnah, disalahkan, dicaci maki dsb. Pengalaman buruk itu bisa menyebabkan kita menjadi sedih, tersinggung, kecewa, atau bahkan marah, bila kita tidak bisa mengendalikan diri.

Bagaimana seharusnya kita menghadapi pengalaman buruk atau perlakuan buruk dari orang lain? 

Cara yang paling baik dan paling tepat adalah bersabar. Karena sabar adalah sifat dan sikap yang mulia, yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Dengan sabar insyaAllah Allah akan memberikan dukungan kepada kita.

Bukan sebaliknya, kita malah mengembangkan pikiran dan sikap yang negatif, seperti balas dendam.

Balas dendam misalnya, ketika kita dibohongi kita membalas dengan membohongi, ketika kita difitnah kita membalas dengan menyebarkan fitnah, ketika kita dicaci maki kita ganti mencaci maki, atau ketika kita dihina kita ganti menghina.

Balas dendam, sikap dan perilaku negatif itu, seharusnya kita hindari, karena akan merugikan diri kita sendiri dan masyarakat, yakni:

- Derajat kita menjadi turun. Semula kita orang 

  baik kemudian menjadi orang tidak baik.

- Suasana dalam masyarakat bertambah 

  buruk. Muncul rasa saling membenci dan  

  perpecahan dalam masyarakat.


Kita seharusnya ingat, dilihat dari segi sifatnya, manusia adalah makhluk bersifat individu dan sosial.

Manusia bersifat individu artinya tidak ada seorang manusia yang sama persis dengan manusia lainnya, sekalipun orang kembar.

Manusia bersifat sosial artinya tidak ada manusia yang bisa hidup dan berkembang sendirian, tanpa bantuan orang lain.

Kita, manusia hidup di dunia saling bergantung. Kita membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan kita, sebaliknya orang lain juga membutuhkan kita. Hubungan timbal balik yang baik itu sebagai dasar untuk mewujudkan rasa persaudaraan dalam masyarakat. Maka jangan sampai dirusak dengan hal-hal yang negatif, seperti saling membohongi, menghina dsb.


Nabi Suci Muhammad saw. bersabda:


لَا تَبَاغَضُوْا وَلَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَاللّٰهِ اِخْوَانًا - وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يَھْجُرَ اَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ اَيَّامٍ .


"Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga hari."

(Sahih al-Bukhari 6065).


Saling membenci di antara sesama manusia itu tidak baik, karena bisa merusak perdamaian dan persaudaraan.

Rasa benci itu seperti racun. Seseorang yang mengkonsumsi racun akan menderita kerugian. Begitu pula, orang yang membenci sesama manusia juga akan menderita kerugian. Beberapa kerugian yang ditimbulkan oleh rasa benci adalah:

1. Rasa benci bisa memicu seseorang melakukan perbuatan yang merusak, bahkan termasuk perbuatan kriminal. Tidak sedikit orang yang harus mendekam di penjara, hanya karena tidak bisa mengendalikan diri dari kebencian.

2. Rasa benci dan marah termasuk emosi negatif. Selain ia berpengaruh buruk pada jiwa dan pikiran, juga berpengaruh buruk pada tubuh. Misalnya, memicu tekanan darah tinggi, sakit kepala, dan sirkulasi darah terganggu. Masalah ini bisa juga memicu serangan jantung atau stroke.

3. Rasa benci membuat seseorang gelisah dan sulit meraih ketenangan hidup.


Untuk meminimalkan dan memudarkan rasa benci itu, caranya antara lain:

1. Kita menyadari bahwa kesehatan fisik dan psikhis kita perlu diperjuangkan, antara lain dengan menghindari atau setidak-tidaknya meminimalkan kebencian.

2. Kita mengubah mindset (pola pikir) kita tentang sesuatu atau seseorang yang menyebabkan timbulnya rasa benci kita. Kita berpikir positif pada orang atau sesuatu yang memicu kebencian kita. Misalnya, ketika ada orang membohongi kita, agar kita tidak terlalu kecewa atau bahkan marah terhadap orang itu,  maka kita mengubah pola pikir kita, dengan mengedepankan pikiran yang positif. Misalnya kita berpikir, barangkali dia membohongi itu karena terpaksa; mungkin kalau dalam keadaan tidak terpaksa dia tidak akan membohongi.


Dalam sabda Nabi Muhammad saw. itu, kita juga diingatkan untuk tidak saling mendengki.

Rasa dengki termasuk penyakit ruhani yang berdampak buruk dan merugikan, maka harus kita hindari atau kita cegah. Orang yang dengki biasanya merasakan SMS dalam arti Susah Melihat orang lain Senang, atau sebaliknya Senang Melihat orang lain Susah.

Kedengkian, kalau kita biarkan akan sangat merugikan dan bisa merusak hubungan baik seseorang dengan orang lain.

Kerugiannya adalah, kedengkian bisa menimbulkan kesengsaraan hidup, dan bisa juga menghapus amal kebaikan. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw.:


اِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَاءِنَّ الْحَسَدَ يَاءْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَاءْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ .


"Jauhilah dengki, karena dengki dapat memakan kebaikan, seperti api memakan kayu bakar." (Sunan Abu Dawud 4903).


Usaha untuk bisa terhindar dari kedengkian secara global:

- Mengembangkan husnudzon (baik 

  sangka) kepada Allah dan orang lain.

- Mensyukuri karunia yang telah Allah berikan 

  kepada kita dan orang lain.


Semoga Allah berkenan memberikan taufik, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat menegakkan perdamaian dan persaudaraan dalam kehidupan bersama di masyarakat. Aamiin.

Dakwah Islam

 


اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْھُمْ بِالَّتِى ھِىَ اَحْسَنُ - اِنَّ رَبَّكَ ھُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَھُوَ اَعْلَمُ بِالْمُھْتَدِيْنَ .


"Berserulah (berdakwahlah) ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan berbantahlah dengan mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu paling mengetahui orang yang tersesat dari jalan-Nya, dan paling mengetahui orang yang berjalan dengan benar." (An-Nahl, 16:125).


Dakwah arti harfiahnya adalah seruan, panggilan, atau ajakan.

Dakwah Islam adalah kegiatan untuk mengajak umat manusia kepada Allah atau kepada jalan Allah, kegiatan untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang kejahatan, dan kegiatan untuk saling memberi nasihat tentang kebenaran dan kesabaran.


Orang yang melakukan dakwah Islam dengan tulus, insyaAllah menjadi orang yang beruntung, dan tidak akan menderita kerugian.


Nabi Suci Muhammad saw. bersabda:


بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ اَيَةً


"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat." 

(Shahih al-Bukhari 3461).


Dalam hadis ini, Nabi Muhammad saw. memerintahkan kepada umatnya, umat Islam agar bertabligh atau menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia. Oleh karena itu, setiap muslim (orang Islam) wajib melakukan tabligh atau dakwah Islam menurut kapasitas masing-masing. Jadi kewajiban dakwah Islam selalu melekat pada setiap orang Islam. Cuma mungkin sarana dan metodenya yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi masing-masing. Bagi orang Islam pada umumnya, yang mungkin pengetahuan agamanya masih terbatas, setidak-tidaknya bisa melakukan dakwah bil hal atau dakwah bil uswah, yaitu dakwah dengan perbuatan, dengan amal nyata, atau dengan teladan.

Dengan kata lain, dakwah bil hal adalah dakwah dengan menunjukkan perilaku dan kebiasaan hidup yang Islami, yang mencerminkan sepenuhnya keindahan ajaran Islam, yang ada dalam Quran Karim, sunnah Nabi Muhammad saw., dan hadis.

Dakwah bil hal atau dakwah dengan amal nyata dan teladan, penting untuk ditampilkan, ditunjukkan terutama di hadapan saudara-saudara kita non-muslim, agar mereka mengenal Islam dengan benar dan tertarik padanya.

Karena mereka tidak membaca Al-Quran dan tidak membaca hadis, namun membaca orang Islam, yakni memperhatikan perilaku dan kebiasaan hidup orang Islam; maka orang Islam hendaklah bisa menjadi duta Islam yang baik.


Perlu diingat, selain dakwah bil hal, ada cara dakwah lainnya, yaitu:

- Dakwah bil lisan (dakwah dengan lisan), seperti ceramah, khotbah, seminar dan diskusi, baik secara langsung maupun melalui media elektronik. Dakwah bil lisan disebut juga dakwah qauliyah (dakwah dengan perkataan).

- Dakwah bil risalah (dakwah dengan tulisan) atau dakwah dengan media cetak, seperti buku, majalah, tabloid, brosur, selebaran, dan koran. Dakwah bil risalah dusebut juga dakwah bil qolam atau dkwah bil kitabah.

- Dakwah digital, yaitu dakwah melalui media digital. Sekarang ini sedang marak banyak orang melakukan dakwah dengan media digital. Cara dakwah ini nampaknya sangat menarik dan cocok untuk generasi milenial.


Allah SWT berfirman:


وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .


"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, dan berbuat baik, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri?" 

Ha Mim/Fushshilat, 41:33).


Firman Allah ini menunjukkan bahwa perkataan yang terbaik adalah perkataan yang berupa dakwah atau seruan kepada Allah, seruan untuk menuju jalan Allah, yang dilakukan oleh orang yang berbuat baik (beramal saleh) dan orang yang berserah diri kepada Allah (muslim).

Jadi, betapa luhurnya posisi seorang muslim yang dengan tulus dan istiqamah melakukan kegiatan dakwah Islam.


Aktivitas dakwah juga merupakan ikhtiar yang wajib kita lakukan, untuk menghindari kerugian dalam hidup di dunia dan akhirat. 

Seperti dijelaskan dalam Quran Karim, surat Al-'Ashr (103), bahwa sesungguhnya manusia menderita rugi, kecuali orang yang beriman dan berbuat baik, dan saling memberi nasihat tentang kebenaran dan kesabaran.

Kalimat "Saling memberi nasihat tentang kebenaran dan kesabaran," itu disebut juga berdakwah atau bertabligh.


Selain dakwah Islam merupakan kewajiban yang melekat pada setiap orang Islam, juga perlu dikelola oleh organisasi. Agar kegiatan dakwah berpengaruh besar dan berhasil dengan baik, sangat dibutuhkan orang-orang yang mau memfokuskan hidup mereka pada kegiatan dakwah. Untuk itu, Allah Ta'ala menghendaki supaya ada suatu organisasi yang mempersiapkan dan mengelola da'i atau mubaligh, yang mengemban tugas amar ma'ruf nahi munkar (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kejahatan).

Allah SWT berfirman:


وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَاءْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْھَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ - وَاُولٰٓءِكَ ھُمُ الْمُفْلِحُوْنَ .


"Dan hendaklah ada sekelompok umat di antara kamu yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh berbuat benar dan melarang berbuat salah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Ali 'Imran, 3:104).


Selanjutnya, Allah SWT juga berfirman dalan Quran, surat At-Taubah/Al-Bara'ah (9), ayat 122, yang intinya: Sekalipun dalam kondisi perang untuk membela diri, seharusnya ada beberapa orang beriman yang memperdalam ilmu agama. Kemudian mereka bertabligh atau menyampaikan ilmu agama yang didapatkan dan dimiliki kepada orang lain, selain mempraktekkannya sendiri.


Semoga Allah berkenan memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk bisa melaksanakan dakwah Islam dengan tulus, sehingga terwujud kehidupan yang Islami di kalangan umat manusia. Aamiin.


                                       ---