Rabu, 22 Mei 2019

Tiga Syarat Tobat



Pada dasarnya tobat merupakan penggerak dan penguat untuk mencapai akhlak yang baik. Untuk itu orang perlu bertobat dengan hati yang tulus dan keinginan yang kuat. Layak diingat, ada tiga syarat untuk tobat. Tanpa terpenuhinya ketiga syarat itu, tidak mungkin bisa tercapai tobat yang sebenarnya, yang disebut 'taubatan nashuuhaa' (tobat yang sungguh-sungguh).
Dari antara syarat-syarat tobat itu, syarat pertama (dalam bahasa Arab) disebut iqlaa' (penghapusan), yakni menjauhkan angan-angan atau khayalan buruk yang menjadi penggerak kebiasaan-kebiasaan buruk. Angan-angan berpengaruh sangat besar  pada perbuatan. Ini merupakan hal yang dapat diterima secara universal. Karena sebelum datang di medan tindakan, setiap perbuatan tersimpan dalam bentuk angan-angan. Jadi syarat pertama untuk tobat adalah melepaskan atau menghilangkan pikiran-pikiran rusak dan angan-angan buruk. Misalnya, bila seorang laki-laki ada hubungan haram dengan wanita lain, maka sebelum bertobat hal yang perlu dilakukan adalah, menetapkan dalam hati bahwa wanita itu bentuknya tampak jelek, dan menghadirkan dalam hati semua kebiasaannya yang tercela. Karena itu, hapuskan anggapan bahwa angan-angan buruk mendatangkan kenikmatan.
Syarat tobat kedua adalah nadam (penyesalan), yakni menyatakan penyesalan sehubungan dengan perbuatan-perbuatan buruk yang lalu. Bagi setiap manusia di dalam dirinya terdapat kekuatan hati nurani, yang mengingatkannya atas setiap keburukan. Tetapi manusia yang malang tidak mendengarkan suara hati nuraninya, dan meninggalkannya. Oleh karena itu, dia seharusnya menyatakan penyesalan atas perbuatan buruk dan dosa, dan memikirkan bahwa kenikmatan (dari perbuatan buruk) ini bersifat sementara dan hanya beberapa hari. Kemudian dia seharusnya memperhatikan juga bahwa setiap waktu kenikmatan dan kesenangan itu menjadi berkurang, hingga tiba usia tua saat kekuatannya menjadi lemah, kemudian dia terpaksa meninggalkan semua kenikmatan dunia itu. Oleh sebab itu, jika semua kenikmatan ini bisa lepas dalam kehidupan ini, lalu apa yang diperoleh dengan berbuat buruk? Sangat beruntung orang yang kembali bertobat, yang di dalamnya ada iqlaa' yakni penghapusan pikiran-pikiran buruk dan angan-angan kotor. Bila kotoran-kotoran ini keluar dari hati, maka akan terjadi penyesalan atas perbuatan dan pikiran buruk. 
Syarat tobat ketiga adalah 'azam (ketetapan hati, kebulatan tekad), yakni keinginan yang kuat dan pasti untuk tidak akan kembali sama sekali pada keburukan-keburukan. Tatkala orang terus menerus dalam keadaan seperti ini, maka Allah Ta'ala akan memberikan taufik dan kemampuan untuk tobat sejati. Sehingga keburukan-keburukan itu benar-benar lenyap darinya. Sebagai gantinya akan terisi dengan akhlak baik dan perbuatan-perbuatan terpuji. Inilah kemenangan akhlak. Di sini, 'memberi kekuatan' merupakan pekerjaan Allah Ta'ala. Karena Dialah pemilik semua kekuatan. Sebagaimana difirmankan:
اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا
"Bahwa kekuatan itu semuanya kepunyaan Allah." (Al Baqarah, 2:165).
Manusia adalah makhluk yang sangat lemah (4:28). Oleh karena itu, manusia hendaklah memenuhi ketiga syarat tobat di atas, selalu berdoa dengan diam-diam, dan meninggalkan kemalasan sepenuhnya. Niscaya Allah Ta'ala akan mengubah akhlaknya.
(Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah jld. 2, hlm. 110-111).

Rabu, 15 Mei 2019

Minta Didoakan



Doa adalah masalah yang sangat rumit. Untuk itu ada syarat bagi orang yang minta didoakan dan orang yang berdoa. Yaitu keduanya ada hubungan yang begitu erat dan kuat. Sehingga kepedihan orang yang minta didoakan menjadi kepedihan orang yang mendoakan, dan kegembiraan orang yang minta didoakan menjadi kegembiraan orang yang mendoakan. Seperti halnya tangis bayi yang menyusu membuat ibu tak berdaya dan menetes susu dari payudaranya. Demikian pula keadaan keinginan, ratapan dan keluhan orang yang minta didoakan sepenuhnya menjadi kesulitan dan ikatan keinginan orang yang mendoakan. Masalah utamanya adalah, semua persoalan ini tergantung pada rahmat Allah Ta'ala. Capaian usaha tidak termasuk di situ. Perhatian dan belas kasihan pun turun dari sisi Allah Ta'ala. Apabila Allah Ta'ala ingin membuka jalan keberhasilan untuk seseorang, maka Dia akan memasukkan perhatian dan belas kasihan dalam hati orang yang mendoakan. Namun harus ada rangkaian penyebab yang dapat menggerakkan atau mendorong dengan kuat (hati) orang yang mendoakan. Tidak ada tadbir atau rencana lain kecuali orang yang minta didoakan membuat keadaan dirinya sedemikian rupa, sehingga orang yang mendoakan dengan tidak sabar menaruh perhatian padanya.
Keadaan yang menarik perhatianku, yang dengan melihatnya aku menemukan dorongan dalam batinku untuk mendoakan, yaitu seseorang yang aku ketahui bertanggung jawab dalam layanan agama. Keberadaannya bermanfaat untuk Allah Ta'ala, Utusan Allah, Kitab Allah, dan hamba-hamba Allah. Kepedihan dan kesedihan yang dirasakan orang seperti itu, sesungguhnya juga aku rasakan. Oleh karena itu, teman-temanku hendaklah menanamkan niat dalam hatinya masing-masing untuk melayani agama, dengan bentuk dan cara pelayanan yang bisa dilakukan. Aku katakan dengan sebenar-benarnya bahwa orang yang menjadi pelayan agama dan bermanfaat bagi sesama manusia itu bermartabat dan terhormat di sisi Allah Ta'ala. Sebaliknya orang-orang yang tidak peduli pada agama, mereka akan mati seperti kematian anjing dan domba.
(Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah jld. 2, hlm. 144).

Rabu, 08 Mei 2019

Kekuatan Akhlak



Allah Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيٌّھَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا
"Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, dan tingkatkanlah kesabaranmu, dan jagalah (perbatasan)." (Ali Imran, 3:200).
Kesabaran itu ibarat satu titik yang kemudian berkembang dalam bentuk lingkaran yang melingkupi segala sesuatu. Akhirnya, kesabaran itu berpengaruh juga pada orang jahat. Oleh karenanya, manusia hendaklah jangan lepas dari takwa. Berjalanlah dengan kukuh di atas jalan takwa. Karena orang bertakwa pasti berpengaruh. Kemuliaannya berpengaruh juga dalam hati para musuh.
Ada banyak bagian takwa. Menghindari ujub atau kagum pada diri sendiri, menghindari harta haram, dan menyelamatkan diri dari akhlak buruk juga termasuk takwa. Barangsiapa memperlihatkan akhlak baik, musuhnya pun bisa menjadi teman. 
Allah Ta'ala berfirman:
اِدْفَعْ بِالَّتِىْ ھِیَ اَحْسَنُ السَّيٍّىَٔةَ
"Tolaklah keburukan dengan apa yang paling baik." (Al Mu'minun, 23:96).
Pikirkan, petunjuk ini mengajarkan apa? Dalam petunjuk ini Allah Ta'ala menghendaki, jika musuh mencaci maki, janganlah ditanggapi dengan caci maki, melainkan bersabarlah. Akibatnya musuh akan mengakui keunggulanmu dan akan malu sendiri. Hukuman ini akan lebih unggul daripada hukuman yang dapat kamu berikan padanya dengan pembalasan dendam. Dengan pembalasan dendam sebagian kecil orang bisa sampai pada langkah pembunuhan. Tetapi ini bukanlah tuntutan kemanusiaan dan tujuan takwa. Akhlak baik itu seperti sebuah permata yang juga berpengaruh pada sejahat-jahatnya manusia sekalipun. Orang-orang fasik yang menentang para nabi, khususnya orang-orang yang menentang Nabi kita Muhammad saw., keimanan mereka tidak tergantung pada mukjizat, dan mukjizat tidak menjadikan mereka puas. Sebaliknya, mereka menerima dan mengakui kebenaran Nabi Muhammad saw. karena melihat akhlak luhur beliau. Keajaiban akhlak bisa bermanfaat dan bisa menyelesaikan urusan yang tidak bisa dilakukan oleh kekuatan mukjizat. Inilah pengertian, "Istiqomah lebih baik daripada seribu karomah." Khususnya pada zaman sekarang, tidak begitu banyak orang yang menaruh perhatian pada karomah. Namun jika didapati seseorang yang berakhlak luhur, maka sedemikian banyak orang yang condong kepadanya. Itu bukanlah hal rahasia. Tiupan akhlak terpuji juga menimpa pada orang-orang yang tidak dapat menemukan ketenangan dan kepuasan dengan melihat berbagai macam tanda. Masalahnya adalah, sebagian orang beriman karena melihat mukjizat dan keajaiban lahiriah. Sebagian yang lain beriman karena melihat beberapa kebenaran dan ilmu pengetahuan. Namun kebanyakan orang mendapatkan hidayah serta kepuasan, dan beriman karena melihat akhlak luhur dan kebaikan. Nabi kita Muhammad saw. memperoleh berbagai macam mukjizat. Lihatlah, tak terhitung mukjizat yang beliau peroleh. Pada beliau terdapat kumpulan tiga macam mukjizat. Mukjizat lahiriah misalnya terbelahnya bulan, dan mukjizat-mukjizat lain yang jumlahnya lebih dari tiga ribu. Dalam seluruh kandungan Quran Syarif berlimpah dengan mukjizat ilmu pengetahuan dan kebenaran yang baru setiap waktu. Sehubungan dengan mukjizat akhlak, wujud suci beliau sendiri sebagai bukti ayat:
اِنَّكَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظٍيْمٍ 
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) mempunyai akhlak yang agung." (Al Qalam, 68:4).
(Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah jld. 2, hlm.  70-71).

Rabu, 01 Mei 2019

Menggapai Surga dengan Iman dan Amal Saleh



وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَھُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِیْ مِنْ تَحْتِھَا الْاَنْھٰرُ
"Dan berilah kabar baik kepada orang yang beriman dan berbuat baik, bahwa mereka akan mewarisi Taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." (Al Baqarah, 2:25).
Dalam ayat ini Allah Ta'ala mengibaratkan iman bagaikan taman, amal saleh (perbuatan baik) bagaikan sungai-sungai, dan hubungan sungai yang mengalir dengan taman bagaikan hubungan amal saleh dengan iman. Sebagaimana tidak mungkin ada taman bisa subur dan menghasilkan buah, tanpa air. Begitu pula iman yang tidak disertai amal saleh, tidak mungkin berguna.
Apakah Surga itu? Surga adalah perwujudan atau penjelmaan iman dan amal saleh. Surga juga seperti Neraka, bukan sesuatu dari luar, melainkan berasal dari dalam diri manusia. Ingatlah, kesenangan dan kenikmatan yang kita peroleh di alam Akhirat terwujud dari jiwa suci yang kita persiapkan di dunia.
Iman suci diumpamakan seperti tanaman muda. Perbuatan baik dan akhlak luhur diumpamakan sebagai sungai-sungai untuk mengairi, meningkatkan kesuburan dan kesegaran tanaman itu. Di dunia ini, gambaran Surga itu seperti apa yang dilihat dalam mimpi, tetapi di alam Akhirat ia secara nyata akan benar-benar dirasakan dan dilihat. Itulah sebabnya dalam Quran Syarif termaktub bahwa ketika penghuni Surga akan diberi bagian dari kenikmatan-kenikmatan itu, mereka akan mengatakan:
ھٰذَا الَّذِىْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِھَا
"Ini adalah yang diberikan kepada kami dahulu; dan mereka diberi yang serupa dengan itu." (Al Baqarah, 2:25).
Maksudnya, bukanlah susu, madu, anggur, delima, dsb. yang kita makan dan kita minum di dunia ini yang akan kita terima di sana (di Surga). Melainkan benda-benda itu berbeda sama sekali dari segi jenis dan keadaannya. Ya... hanya persekutuan nama yang didapatkan. Meskipun gambaran secara jasmaniah semua kenikmatan itu telah ditunjukkan, tetapi bersama itu juga telah dijelaskan bahwa benda-benda di alam Akhirat menerangi ruh, dan yang menghasilkan pengenalan Allah sumbernya ruh dan kebenaran. Sungguh salah memaknai ayat  رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ (yang diberikan kepada kami dahulu) dengan makna 'nikmat-nikmat jasmaniah dunia. Sebaliknya, maksud Allah Ta'ala dari ayat ini adalah, orang-orang beriman yang melakukan amal saleh berarti mereka mempersiapkan Surga dengan tangannya yang buahnya akan mereka makan dalam kehidupan di Akhirat. Karena buah itu secara ruhaniah mungkin juga telah mereka makan di dunia, maka di alam Akhirat mereka akan mengenalnya dan akan mengatakan bahwa ini buah yang telah mereka kenal. Ada perkembangan ruhani yang terjadi di dunia. Oleh karena itu, orang-orang yang mengabdi dan mengenal Allah akan mengenal itu semua.  (Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah jld. 2, hlm. 382).

Rabu, 24 April 2019

Jalan untuk Menjadi Insan Kamil



Pikirkan, dalam surat pertama (Al Fatihah) ini Allah Ta'ala dengan gamblang telah menunjukkan kepada kita jalan untuk memperoleh karunia. Dalam surat yang disebut juga Khotamul Kutub dan Ummul Kitab ini telah diterangkan dengan jelas, apa tujuan hidup manusia, dan apa jalan untuk mencapainya. ُاِيَّاكَ نَعْبُد (kepada Engkau kami mengabdi), seolah-olah menjadi tuntutan dan tujuan utama fitrah manusia. Kalimat itu mendahului kalimat اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (kepada Engkau kami mohon pertolongan). Hal ini menjelaskan  bahwa pertama-tama manusia dengan sepenuh kekuatan, semangat, dan pengetahuannya harus berikhtiar dan berjuang di jalan keridaan Allah Ta'ala, memanfaatkan sepenuhnya kekuatan pemberian Allah Ta'ala. Kemudian, hendaklah berdoa kepada Allah Ta'ala untuk penyelesaian dan hasil baiknya. Maksud dan tujuan hidup manusia adalah mencari jalan yang benar, dan berjalan di atas jalan yang benar, yang dalam surat ini dijelaskan dengan kalimat:
اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ . صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْھِمْ
"Pimpinlah kami pada jalan yang benar. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan." (Al Fatihah, 1:5-6).
Inilah doa yang disampaikan dalam setiap salat dan dalam setiap rakaat. Doa ini begitu sering diulang-ulang, hal ini menunjukkan betapa pentingnya doa tersebut. Jemaah kami,  ingatlah bahwa ini bukanlah hal biasa, dan maksud esensinya bukan hanya mengulang-ulang kalimat doa ini seperti burung beo. Melainkan doa ini sebagai sebuah resep yang efektif untuk membuat manusia menjadi insan kamil dan insan yang tidak berbuat salah.
Jangan pernah lupa bahwa beberapa bagian Quran Syarif merupakan tafsir dan penjelasan bagian-bagian yang lain. Di satu tempat satu masalah dijelaskan secara ringkas, di tempat lain masalah itu dijelaskan dengan terbuka dan terinci. Seakan-akan yang kedua merupakan tafsir yang pertama.                  Ayat صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْھِمْ (jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan) ini ringkas. Tetapi tafsir اَلَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْھِمْ (orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan) terdapat di tempat lain (An Nisa', 4:69):
مِنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّھَدَآءِ وَالصّٰلِحِيْنَ
Orang-orang yang telah Allah beri kenikmatan ada empat macam, yaitu para nabi (nabiyyiin), orang-orang tulus (shiddiiqiin), orang-orang setia (syuhadaa'), dan orang-orang saleh (shoolihiin). 
Dalam diri para nabi terhimpun keempat kemuliaan, karena mereka yang paling sempurna. Kewajiban setiap manusia adalah berjuang dengan benar dan maksimal untuk mencapai kesempurnaan ini, dengan jalan seperti yang Nabi Muhammad saw. usahakan dan tunjukkan dengan perbuatan beliau. Banyak orang yang ingin mencapai kesempurnaan atau ingin menjalin hubungan yang benar dengan Allah Ta'ala dengan ibadah harian dan wirid bentukan mereka sendiri. Namun orang yang tidak menempuh jalan atau cara yang diikhtiarkan oleh Nabi Muhammad saw., itu hanya sia-sia. Tidak mungkin ada orang lain yang lebih berpengalaman pada jalan untuk mendapatkan nikmat Allah daripada Nabi Muhammad saw. Pada beliau semua kesempurnaan kenabian berakhir. Jalan yang telah beliau ikhtiarkan sangat benar dan paling dekat. Tindakan meninggalkan jalan ini, dan menciptakan jalan yang lain, meskipun secara lahiriah sangat menyenangkan, menurut pendapatku itu penghancuran. Allah Ta'ala telah menunjukkan padaku, dengan itibak Nabi Muhammad saw. secara tulus orang bisa bertemu Allah. 
Nabi Muhammad saw. adalah teladan yang baik (Al Ahzab, 33:21). Maka tirulah dan ikutilah beliau sepenuhnya, dan jangan berusaha menyimpang sedikit pun dari teladan beliau.
Pendek kata, kesempurnaan pada orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah, yang Allah isyaratkan dalam ayat صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَعَمْتَ عَلَيْھِمْ menjadi tujuan utama setiap manusia untuk mencapainya. Khususnya jemaah kami, hendaklah memperhatikan hal ini. Karena dengan didirikan jemaah ini Allah Ta'ala menghendaki agar terwujud jemaah seperti
 jemaah yang telah disiapkan oleh Nabi Muhammad saw. Agar pada zaman akhir jemaah ini ditetapkan sebagai saksi terhadap kebenaran dan kebesaran Quran Syarif dan Nabi Muhammad saw. (Disarikan dari Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah jld. 2, hlm. 161-163).

Rabu, 17 April 2019

Induk Doa (Ummul Ad'iyah)



Jalan terbuka (untuk mencapai kesempurnaan insani dan posisi wali), seperti yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:
اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
"Pimpinlah kami pada jalan yang benar." (Al-Fatihah, 1:5).
Allah Ta'ala tidak mungkin mengajarkan induk doa ini kepada kita, tanpa menyiapkan perlengkapan untuk memenuhinya. Di mana Allah mengajarkan doa, di situ Dia juga menyediakan perlengkapan atau persiapan untuk memenuhinya.
Di dalam surat selanjutnya (surat Al Baqarah), terdapat isyarat tentang terkabulnya doa tersebut. Dalam surat itu Allah berfirman:
ذٰالِكَ الْكِتٰبُ لَارَيْبَ فِيْهِ ھُدً لِلْمُتَّقِيْنَ
"Kitab ini, tidak ada keragu-raguan di dalamnya, adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa (orang yang memenuhi kewajiban dan menjaga diri dari kejahatan." (Al Baqarah, 2:2).
Doa (dalam surat Al-Fatihah, ayat 5) ini seakan-akan merupakan doa yang perlengkapan untuk pemenuhannya telah disiapkan sebelumnya. Ringkasnya, kekuatan (untuk takwa) yang telah diberikan pada manusia, bila dimanfaatkan maka dia tentu bisa menjadi wali. Hal yang tidak dapat disangkal bahwa dalam umat ini datang orang yang mempunyai kekuatan besar, yang pribadinya penuh dengan cahaya, kebenaran dan ketulusan. Oleh karena itu, janganlah ada orang yang menganggap dirinya tidak mendapat kekuatan (untuk takwa) itu. Apakah Allah Ta'ala mengeluarkan suatu daftar yang dengannya dapat diketahui bahwa kita tidak akan mendapatkan bagian dari berkah-berkah itu? Allah Ta'ala Maha Pemurah. Kemurahan-Nya seperti samudra yang sangat dalam, yang tidak mungkin pernah habis. Orang yang mencari kemurahan Allah tidak akan tertolak. Oleh sebab itu kamu hendaklah bangun pada waktu malam, berdoalah dan carilah karunia-Nya. Dalam setiap salat ada kesempatan untuk berdoa, pada waktu rukuk, berdiri, duduk, sujud, dsb. Kemudian dalam sehari-semalam dilaksanakan salat lima kali, Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Selain itu dapat ditingkatkan atau ditambah dengan salat Isyroq dan Tahajud. Ini semua kesempatan untuk berdoa. Maksud utama dan inti salat adalah doa. Berdoa kepada Allah Ta'ala sungguh sesuai dengan sunatullah. Misalnya, kita pada umumnya melihat tatkala anak menangis terisak-isak dan menunjukkan kegelisahan, maka ibu dengan tidak sabar segera memberi susu padanya. Ada semacam hubungan antara Tuhan dengan hamba, yang tidak setiap orang bisa mengerti. Tatkala manusia datang bersimpuh di hadapan Allah Ta'ala, dengan khusyuk dan khuduk mengutarakan keadaannya, dan memohon apa yang menjadi kebutuhannya, maka meluaplah kemurahan Allah, dan dia diberi rahmat oleh-Nya. Untuk 'susu' rahmat Allah pun diperlukan tangisan. Oleh karenanya, hendaklah kita menunjukkan mata yang meneteskan air mata  di hadapan Allah. Sebagian orang menganggap bahwa dengan menangis di hadapan Allah Ta'ala tidak akan mendapatkan apa-apa. Anggapan itu salah sama sekali. Orang yang beranggapan demikian tidak beriman pada keberadaan Allah Ta'ala dan sifat Maha Kuasa-Nya. Seandainya mereka mempunyai iman yang hakiki, mereka tidak akan berani mengatakan seperti itu. Apabila manusia datang kembali ke hadirat Allah Ta'ala, dan dia kembali dengan tobat yang sebenarnya, Allah senantiasa akan memberikan rahmat padanya. (Disarikan dari Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah jld. 2, hlm. 159-160).

Rabu, 10 April 2019

Konsekuensi Penolak Wali Allah



Dengan bersumpah demi Allah, aku menyatakan bahwa Allah Ta'ala telah mengangkat dan mengutus aku. Bila dalam hati seseorang ada keagungan Allah Ta'ala, maka dia  tidak akan menolak. Dia akan takut jangan sampai termasuk orang yang mengurangi keagungan-Nya. Namun hal ini hanya terjadi apabila dia mempunyai iman yang hakiki pada Allah Ta'ala, dia takut pada hari pembalasan, dan dia mengamalkan firman Allah:
لَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ
"Janganlah mengikuti apa yang engkau tak mempunyai pengetahuan tentang itu." (Bani Israil, 17:36).
Kekuatan akal dan kekuatan iman sebagian orang menuntun mereka sampai mengatakan bahwa orang yang menolak nabi dia menjadi kafir, tetapi mengapa dengan menolak wali mesti dianggap tidak percaya (pada Allah)? Mereka menganggap bahwa dengan menolak seseorang tidak ada ruginya. Mereka menganggap bahwa menolak wali Allah merupakan hal yang biasa. Mereka mempertanyakan bahwa dengan hal itu apakah yang rusak?
Hakekatnya, penolakan terhadap wali Allah bisa menjadi penyebab hilangnya iman. Barangsiapa memikirkan masalah itu, itu akan kelihatan dengan jelas, bahkan akan nampak seperti penampakan suatu bentuk dalam cermin. Hendaklah diingat bahwa ada dua cara hilangnya iman. Pertama, karena penolakan terhadap para nabi. Siapapun tidak menyangkal hal ini, dan ini hal yang pasti. Kedua, karena penolakan terhadap para wali Allah dan orang-orang yang ditunjuk atau diangkat oleh Allah. Dengan penolakan terhadap para nabi menyebabkan hilangnya iman. Hal ini sangat jelas dan semuanya mengerti. Namun hendaklah diingat, penolakan terhadap para nabi bisa menghilangkan iman karena para nabi mengatakan bahwa mereka telah datang dari sisi Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman bahwa apa saja yang mereka katakan adalah firman- Nya. Ini nabi-nabi-Nya, berimanlah pada mereka. Berimanlah pada Kitab-Nya, dan laksanakan perintah-perintah-Nya. Barangsiapa tidak beriman pada Kitab Allah, dan tidak mengamalkan wasiat dan batasan yang dijelaskan di dalamnya, berarti dia menolak Kitab itu dan menjadi kafir. Tetapi orang yang kehilangan iman karena penolakan terhadap para wali Allah keadaannya berbeda. Dalam satu hadis qudsi, Allah Ta'ala berfirman:
مَنٔ عَادَى لِى وَلِِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
"Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku akan berperang dengannya." (H.R. Bukhari, hadis qudsi no. 25).
Tatkala ada orang sangat mencintai seseorang lainnya, seperti seorang ayah sangat mencintai anaknya, sementara itu sehubungan dengan anak yang sangat dicintai itu ada orang lain yang mendoakan buruk, atau mengutarakan kata-kata yang menyakitkan hati dan menyedihkan, niscaya ayah anak itu tidak akan senang dengan kata-kata itu, dan dia tidak akan bisa mencintai orang lain itu. Hal ini merupakan masalah prinsipiil. Demikian pula para wali Allah pun seperti anak Allah. Karena mereka telah melepaskan jubah kedewasaan jasmani, dan mendapatkan pemeliharaan dan asuhan dalam rahmat pelukan Allah Ta'ala. Allah sendiri pengatur, penjamin mereka, dan Yang memiliki perhatian untuk mereka. Apabila ada orang (sekalipun dia orang yang melaksanakan salat dan puasa) memusuhi mereka (para wali) dan siap menyakiti mereka, maka bergolaklah kemarahan Allah Ta'ala dan meletup kemarahan-Nya pada orang yang memusuhi mereka. (Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah jld. 2, hlm. 154-155).