Senin, 17 Januari 2022

Malaikat dan Setan

 


Allah menciptakan setan, bukan untuk menjatuhkan manusia dalam dosa dan kesesatan. Penciptaan setan juga bukan dimaksudkan agar manusia selalu terlibat dalam kejahatan dan tidak pernah memperoleh keselamatan.


Akidah umat Islam yang benar, seperti yang telah Allah sendiri jelaskan dengan firman-Nya yaitu, Allah Ta'ala telah menyediakan bagi manusia dua sarana untuk kebaikan dan kejahatan. 

Untuk itu, Allah Ta'ala menetapkan dua macam penggerak secara alami.

Pertama, penyeru atau pengajak kebaikan, yakni malaikat yang memasukkan keinginan kuat untuk kebaikan dalam hati manusia.

Kedua, penyeru atau pengajak kejahatan, yakni setan yang memasukkan keinginan kuat untuk kejahatan dalam hati manusia.


Namun Allah Ta'ala hendak memberi kemenangan pada penyeru kebaikan (malaikat). Untuk mendukung dan menguatkannya, Allah menganugerahkan akal kepada manusia, menurunkan firman-Nya, menunjukkan keajaiban (mukjizat) dan tanda-tanda, serta menetapkan hukuman berat untuk perbuatan kejahatan. Jadi Allah Ta'ala memberi banyak macam cahaya kepada manusia agar dia memperoleh petunjuk. Keadilannya yang tulus membuatnya siap menerima petunjuk.

Adanya setan (penyeru kejahatan) yang mendorong ke arah kejahatan, hikmahnya agar dengan menghindari atau menahan diri dari dorongan setan itu, manusia memperoleh pahala. Yakni pahala yang tidak bisa didapatkan kecuali dengan ujian semacam itu (ujian yang berupa dorongan atau bujukan setan, pent.)


Ditemukan bukti lain yang sangat jelas tentang kedua penyeru, yakni penyeru kebaikan dan penyeru kejahatan bagi manusia. Manusia sendiri merasakan dengan jelas dalam jiwanya bahwa dia selalu terpengaruh dengan dua macam keinginan kuat. Kadang-kadang dia mengalami keadaan yang jernih dan cerah, sehingga pikiran baik dan keinginan baik muncul di dalam hatinya. Sebaliknya, kadang-kadang keadaannya penuh dengan ketidakjelasan dan suram, sehingga tabiatnya kembali ke pikiran-pikiran jahat dan dalam hatinya ada kecenderungan ke arah kejahatan.


Inilah dua penyeru yang ditafsirkan sebagai malaikat dan setan. Dengan cara lain, para ahli filsafat (filsuf) menjelaskan keduanya, baik penyeru kebaikan maupun penyeru kejahatan. Menurut pendapat mereka, dalam keberadaan manusia sendiri terdapat dua macam kekuatan. Pertama, kekuatan malaikat, sebagai penyeru kebaikan. Kedua, kekuatan setan, sebagai penyeru kejahatan. Kekuatan malaikat mendorong menuju kebaikan. Kekuatan setan mendorong menuju kejahatan.


Singkatnya, perbedaan antara akidah atau keyakinan Islam dengan keyakinan semua filsafat di dunia hanyalah, umat Islam menganggap kedua penggerak atau pendorong itu sebagai dua makhluk di luar manusia. Sedangkan para ahli filsafat menganggap kedua penggerak itu sebagai dua macam kekuatan yang ada di dalam jiwa manusia itu sendiri.

Tetapi faktanya, ditemukan dua penggerak bagi manusia, apakah mereka sebagai dua makhluk di luar manusia atau sebagai dua kekuatan (dalam diri manusia). Hal ini merupakan kepercayaan umum, yang semua kelompok ahli filsafat sepakat tentang ini. Sampai hari ini tidak ada orang bijak yang menolak kepercayaan umum ini.

(Disarikan dari Manzur Ilahi/Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 2, hlm. 18-19).

Senin, 10 Januari 2022

Mengenal Allah Melalui Doa

 


Surat Al-Fatihah sebagai inti semua ajaran Quran Syarif. Barangsiapa yang ingin mengambil sesuatu yang bertentangan dengan Al-Quran, itu tidak benar. Sebagaimana telah aku nyatakan, umat Islam dianjurkan agar dengan surat Al-Fatihah mereka rajin berdoa. Bahkan telah diajarkan pada mereka doa _"Ihdinaash shiroothol mustaqiim"_ (pimpinlah kami pada jalan yang benar). Mereka diwajibkan berdoa dengan doa ini dalam shalat wajib lima waktu.

Betapa salahnya seseorang yang mengingkari kekuatan ruhaniah doa. Quran Syarif telah menetapkan bahwa dalam doa terkandung kekuatan ruhaniah. Dari doa turunlah rahmat yang membuahkan berbagai macam kesuksesan.


Setiap orang yang adil dan bijaksana bisa mengerti bahwa terlepas dari adanya penerimaan atau pengakuan masalah takdir dalam banyak hal, menurut sunatullahnya dengan usaha keras akan ada hasil yang diatur. Demikian pula dalam hal doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh, ia tidak akan sia-sia. Pada satu tempat dalam Quran Syarif, Allah Ta'ala telah menetapkan tanda untuk mengenal-Nya, Tuhan kita adalah Tuhan yang mendengar doa orang-orang yang resah.

Allah berfirman:


اَمَّنْ يُجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ


"Atau siapakah yang mengijabahi (doa) orang yang susah tatkala dia berdoa kepada Nya?" 

(An-Naml, 27:62). 


Ketika Allah menjadikan pengabulan doa sebagai tanda keberadaan-Nya, bagaimana mungkin orang yang bijaksana dan rendah hati bisa menganggap bahwa pada saat orang berdoa, tidak ada tanda ijabah yang jelas baginya dan doa itu hanya sebagai perkara formalitas yang tidak ada kekuatan ruhaniahnya? Menurutku ketidaksopanan seperti itu sama sekali tidak akan dilakukan oleh orang beriman sejati.

Ketika Allah Ta'ala berfirman bahwa dengan merenungkan sifat-sifat bumi dan langit dapat dikenal Tuhan sejati; demikian pula dengan melihat terkabulnya doa, seseorang menjadi yakin akan adanya Allah Ta'ala.

Kemudian seandainya tidak ada kekuatan ruhaniah dalam doa dan tidak ada berkah yang nyata dalam doa, bagaimana mungkin doa bisa menjadi sarana untuk mengenal Allah Ta'ala, seperti sarana benda-benda bumi dan langit?


Dari Quran Syarif diketahui bahwa sarana tertinggi untuk mengenal Allah adalah doa. Pengetahuan yang benar-benar lengkap tentang keberadaan Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna, hanya dapat dicapai melalui doa, bukan dengan cara lainnya.

Sesuatu seperti cahaya halilintar yang sekali waktu menarik manusia keluar dari lubang kegelapan dan membawanya ke tempat terbuka penuh cahaya, serta membuatnya berdiri di hadapan Allah Ta'ala, sesuatu itu adalah doa. Melalui doa, ribuan orang yang jahat dan rusak bisa menjadi baik.


Dalam berdoa ada kendala utama, karenanya seringkali keagungan doa tersembunyi dari hati. Kendala utama itu adalah tidak terpenuhinya syarat ketakwaan, ketulusan dan keimanan.

Allah Ta'ala berfirman: 


اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ


"Sesungguhnya Allah akan menerima dari orang yang bertakwa." (Al-Maidah, 5:27).

Yakni, Allah Ta'ala menerima doa orang-orang bertakwa.


Kemudian Allah berfirman:


وَاِذَا سَاَلَكَ عٍبَادِىْ عَنِّىْ فَاِنِّىْ قَرِيْبٌ - اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِىْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِىْ لَعَلَّھُمْ يَرْشُدُوْنَ .


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa tatkala dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka dapat menemukan jalan yang benar." 

(Al-Baqarah, 2:186).


Dengan kata lain, ketika hamba-hamba Allah bertanya tentang Allah, tentang keberadaan-Nya; maka jawabannya Allah sangat dekat. Keberadaan Allah dapat dimengerti dengan jalan yang sangat dekat. Argumen tentang keberadaan Allah dapat diperoleh dengan sangat mudah, yaitu ketika seorang pemohon memanggil Allah, Allah mendengarnya. Dengan ilham-Nya, Dia menyampaikan kabar baik tentang keberhasilannya, darinya dia tidak hanya yakin pada keberadaan-Nya, tapi juga kuat keyakinannya pada kekuasaan-Nya.

Namun orang-orang seharusnya mewujudkan keadaan takwa sedemikian rupa, sehingga Dia mendengarkan suara mereka. Sebelum mencapai pengetahuan dan pengenalan penuh tentang Allah, mereka seharusnya beriman pada Allah dan menyatakan bahwa Allah itu ada, Dia memiliki semua kekuatan dan kekuasaan. Karena orang beriman diberi kearifan.

(Ayyamus Sulh, hlm. 31-32).

Kebersihan Lahiriah dan Batiniah

 


Nabi menjadi bapak ruhani. Dia ingin secara berangsur-angsur menyingkirkan setiap ketidaksucian atau kekotoran dan menyelamatkan manusia dari setiap bahaya.

Kekotoran tahap pertama yang menyebabkan manusia dalam keadaan seperti binatang adalah kekotoran jasmaniah, darinya menimbulkan penyakit berbahaya dan mematikan. Karena itu tentu Kitab Allah yang sempurna memulai pengajarannya dari masalah itu.

Pertama-tama Allah ingin orang melepaskan kekotoran jasmaniah dan keadaan seperti binatang (biadab), lalu menjadi insan (manusia). Kemudian dengan mengajarkan aturan akhlak utama dan kebersihan batiniah Allah membuat manusia menjadi insan beradab. Kemudian insan beradab yang mencapai kehalusan cinta dan fana fillah (lebur dalam Allah) Dia tingkatkan menjadi insan bertakwa.


Dalam kalam suci-Nya  Allah Ta'ala mendorong manusia menuju dua macam kebersihan (kebersihan lahiriah dan batiniah). Firman-Nya:


اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَھِّرِيْنَ .


"Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan mencintai orang yang suci." (Al-Baqarah, 2:222).


Dengan kata _"tawwaabiin"_(orang yang bertobat), Allah Ta'ala mendorong manusia ke arah kebersihan dan kesucian batiniah. Dengan kata _"mutathohhiriin"_ (orang yang suci) Allah menekankan pada kebersihan dan kesucian lahiriah.


Dari ayat itu tidak berarti bahwa orang yang hanya menjaga kebersihan dan kesucian lahiriah, yang dicintai oleh Allah. Dengan tergabungkannya kata _"tawwaabiin"_ (orang yang bertobat) itu mengisyaratkan bahwa manusia, hamba Allah yang mendapat cinta Allah yang penuh adalah dia yang selain menjaga kebersihan dan kesucian lahiriah juga melakukan pertobatan sejati dan kembali kepada Allah Ta'ala. Dengan cinta Allah yang sempurna, manusia  akan selamat di hari Kiamat.

Orang yang hanya memerhatikan kebersihan dan kesucian lahiriah di dunia, dia hanya dapat mengambil faedah, terlindungi dari banyak penyakit jasmani. Meskipun dia tidak bisa melihat cinta Allah Ta'ala tingkat tinggi, tapi karena dia melakukan sedikit perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah, yakni menjaga kebersihan rumahnya, badannya dan pakaiannya, maka dia diselamatkan dari beberapa malapetaka jasmaniah. Kecuali orang yang banyak dosanya, dia pantas mendapat hukuman.


Jika kamu membaca Al-Quran dengan seksama, kamu akan tahu bahwa Allah Yang belas kasih-Nya tak terbatas menghendaki agar manusia menyukai kesucian batiniah untuk bisa terselamatkan dari siksaan ruhani,  serta menyukai kebersihan lahiriah untuk bisa terhindar dari neraka dunia yang dimanifestasikan dalam bentuk berbagai penyakit dan wabah.


Dijelaskan, _"tawwaabiin"_ (orang yang bertobat) maksudnya orang yang berjuang untuk mewujudkan kebersihan dan kesucian batiniah. _"Mutathohhiriin"_ (orang suci) maksudnya orang yang selalu berjuang untuk mewujudkan kebersihan dan kesucian lahiriah atau jasmaniah.


Di tempat lain Allah berfirman:


كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا .


"Makanlah barang-barang yang baik dan berbuatlah kebaikan." (Al-Mu'minun, 23:51).


Dalam ayat itu terdapat dua perintah. 

Pertama, "makanlah barang-barang yang baik", untuk pengelolaan kebaikan jasmani.

Kedua, "berbuatlah kebaikan", untuk pengelolaan kebaikan ruhani.

Dari perbandingan antara keduanya, kita mendapatkan argumen bahwa hukuman akhirat itu diperlukan untuk orang jahat. Sebab ketika kita mengabaikan aturan kebersihan jasmani di dunia, kita langsung terperangkap dalam musibah. Begitu pula bila kita meninggalkan prinsip kebersihan dan kesucian ruhani, maka setelah kematian tentu akan ada azab yang menimpa kita.

(Disarikan dari Ayyamus Sulh, hlm. 109-111).

Selasa, 28 Desember 2021

Doa dan Usaha

 


Ketika jiwa kita dengan semangat tinggi menghadap ke arah Sumber rahmat (Allah) untuk memohon sesuatu, dan dengan memikirkan kelemahan diri sendiri kita mencari cahaya dari tempat lain; maka sebenarnya keadaan kita itu merupakan keadaan berdoa.

Dengan doa itu semua pengetahuan dan kebijaksanaan dapat terungkap. Doa merupakan kunci setiap rumah pengetahuan. Tidak ada bagian pengetahuan sekecil apa pun yang terungkap tanpa doa. Pemikiran kita, perenungan kita, dan penggunaan pikiran kita untuk pencarian akan hal-hal yang tersembunyi, semua itu termasuk dalam perkara doa.

Perbedaannya hanyalah, doa orang-orang yang mengenal Allah ('arif) terikat dengan aturan pengenalan Allah. Jiwa mereka mengenal Sumber rahmat (Allah), dengan penglihatan ruhani mereka menghadap ke arah-Nya.

Sedangkan doa orang-orang yang terhijab (mahjub) hanyalah pengembaraan pikiran yang dimanifestasikan dalam corak pemikiran, pertimbangan, dan pencarian penyebab dan sarana. Mereka orang-orang yang tidak mengenal Allah Ta'ala dan tidak percaya kepada-Nya. Mereka pun dengan kontemplasi dan pemikiran yang mendalam berharap agar dari yang gaib ada hal kesuksesan yang terbisikkan dalam hati mereka.


Orang yang mengenal Allah yang berdoa menginginkan agar Allah membukakan jalan untuk kesuksesan padanya. Tetapi orang yang terhijab yang tidak memiliki koneksi dengan Allah Ta'ala, tidak tahu sumber rahmat. Seperti orang yang mengenal Allah, fitrah orang yang terhijab saat kebingungan juga menginginkan bantuan dari tempat lain, dan untuk memperoleh bantuan itu, dia berpikir. Orang yang mengenal Allah melihat sumber bantuan itu. Sedangkan orang yang terhijab berjalan dalam kegelapan dan tidak tahu bahwa apa yang muncul dalam hati atau batinnya setelah dia berpikir dan merenung itu juga dari Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala menetapkan berpikirnya seorang pemikir sebagai doa. Allah menurunkan pengetahuan dalam hati atau batin orang yang berpikir sebagai pengabulan doa.


Pendek kata, titik pengetahuan dan kebijaksanaan yang muncul dalam hati atau batin melalui pemikiran itu juga berasal dari Allah, meskipun orang yang berpikir tidak mengerti. Tetapi Allah Ta'ala mengetahui bahwa dia sedang  memohon kepada-Nya, maka akhirnya dia memperoleh apa yang dimaksudkan dari Allah.


Doa yang bijaksana ('arifanah doa) sebagai cara mencari cahaya dengan mengenal Pembimbing hakiki (Allah) dan dengan penglihatan ruhani.

Sedangkan doa yang terhijab atau terselubung (mahjubah doa) sebagai cara mencari cahaya dari sumber yang tidak diketahui dan tidak terlihat penuh wujud Pemberi cahaya hakiki, dengan melalui pemikiran dan perenungan.


Dari pembahasan itu terbukti bahwa untuk mewujudkan usaha dan manajemen urutan pertamanya adalah doa, yang telah ditetapkan oleh hukum alam sebagai hal penting bagi setiap manusia.

Setiap manusia yang ingin mencapai suatu tujuan tentu saja harus melalui jembatan itu.

Sungguh memalukan seseorang yang berpikir bahwa ada kontradiksi antara doa dengan usaha.

Apa yang maksud berdoa di sini? Yaitu berharap agar Allah Yang mengetahui hal gaib berkenan membisikkan dalam hati usaha dan manajemen terbaik.

Kemudian bagaimana mungkin terjadi kontradiksi antara doa dengan usaha?


Sebagaimana dari kesaksian hukum alam terbukti bahwa ada hubungan usaha dengan doa, begitu pula hal itu juga terbukti dengan kesaksian fitrah manusia. Seperti yang terlihat saat ada  musibah atau kesulitan, sifat dasar manusia cenderung sibuk ke arah usaha dan perbaikan. Selain itu, dengan semangat alami dia juga condong ke arah doa, amal dan sedekah.

Jika kita perhatikan semua  bangsa di dunia, maka dapat diketahui bahwa hingga sekarang tidak terlihat ada konsensus suatu bangsa yang bertentangan dengan masalah itu. Inilah argumen ruhani bahwa hukum batin manusia sejak dahulu kala telah memberikan fatwa kepada semua bangsa bahwa mereka tidak boleh memisahkan doa dengan sarana dan usaha. Sebaliknya mereka seharusnya mencari solusi usaha melalui doa. Jadi doa dan usaha merupakan dua tuntutan alami sifat manusia sejak dahulu kala dan sejak manusia lahir. Mereka seperti dua saudara kandung yang berfungsi sebagai pelayan fitrah manusia. Usaha sebagai hasil kebutuhan untuk doa, dan doa sebagai penggerak dan penarik untuk usaha. Keberuntungan manusia terletak pada kenyataan bahwa dia seharusnya meminta bantuan dari Sumber rahmat (Allah) dengan doa sebelum melakukan usaha dan manajemen, sehingga dia bisa memperoleh cahaya dan perencanaan serta usaha dari Sumber abadi (Allah) yang baik sekali.

(Ayyamus Sulh, hlm. 2-3).

Rabu, 15 Desember 2021

Ibadah dan Pahala Hakiki

 


Beberapa orang dengan cepat mengatakan bahwa mereka tidak melarang berdoa, tetapi doa hanya berarti ibadah yang untuk itu pahala diatur.

Namun sayang, mereka tidak berpikir bahwa setiap ibadah yang di dalamnya tidak diperoleh kekuatan ruhani dari Allah Ta'ala, setiap pahala yang hanya merupakan angan-angan yang diharapkan untuk masa depan, semua anggapan itu salah.

Ibadah dan pahala hakiki adalah ibadah dan pahala yang cahaya (pengaruh) dan berkahnya terasakan juga di dunia ini.


Tanda-tanda terkabulnya ibadah (doa) kita yaitu, tepat pada waktu kita berdoa, dengan mata hati, kita melihat turunnya cahaya penawar racun dari Allah yang menghilangkan zat-zat beracun dari hati kita, yang turun seperti nyala api dan segera dipenuhi hati kita dengan keadaan bersih dan lapang, keyakinan, cinta, kenikmatan, kasih sayang, dan kegairahan.

Jika hal-hal ini tidak ada, maka doa dan ibadah pun hanya merupakan ritual dan adat kebiasaan.


Setiap doa meskipun untuk pemecahan kesulitan duniawi kita, tetapi dengan melewati keadaan iman dan tingkat pengenalan Tuhan kita. Yakni, awalnya doa itu meningkatkan iman dan pengenalan Tuhan. Ia juga memberikan kedamaian, kesenangan, ketenangan, kepuasan hati, dan kesejahteraan sejati. Kemudian ia memengaruhi kekejian duniawi kita dan dengan aspek yang sesuai menghilangkan kesedihan kita.

Singkatnya, dari semua bahasan itu terbukti bahwa doa dapat disebut doa sejati apabila benar-benar ada daya tarik di dalamnya, dan setelah orang berdoa benar-benar ada cahaya (pengaruh) turun dari langit yang menghapuskan kebingungan dan kecemasan kita, memberikan kepada kita ketenangan batin, kedamaian, dan kepuasan.


Setelah kita berdoa, Allah Yang Maha Bijaksana menurunkan pertolongan dan dukungan dengan dua cara:

Pertama, menghilangkan musibah atau penderitaan yang di bawahnya kita tertekan hampir mati.

Kedua, memberi kekuatan luar biasa untuk menanggung musibah, bahkan Allah memberinya kesenangan dalam menanggung musibah itu.

Karena itu, dengan kedua cara tersebut terbukti bahwa dengan doa tentu turun pertolongan Ilahi.

(Ayyamus Sulh, hlm. 12-13).

Empat Alasan Doa Diwajibkan



Perlu diingat bahwa dalam firman suci-Nya Allah Ta'ala mewajibkan berdoa kepada umat Islam. Ada empat alasan penetapan kewajiban berdoa ini.


Pertama, agar dengan kembali (menghadap) kepada Allah Ta'ala pada setiap saat dan setiap keadaan, seseorang akan kuat kepercayaannya pada keesaan Allah (tauhid). Karena dengan (sering) memohon kepada Allah berarti dia mengakui bahwa hanya Allah sendiri yang memberi atau mengabulkan permohonan.


Kedua, agar iman menjadi kuat dengan terkabulnya doa dan tercapainya tujuan.


Ketiga, jika karunia dan pertolongan Ilahi diberikan dalam jenis lain, maka akan diperoleh lebih banyak pengetahuan dan kebijaksanaan.


Keempat, jika pengabulan doa dijanjikan atau diberitahukan melalui ilham dan ru'ya, dan yang terjadi seperti yang dijanjikan, maka pengenalan Allah (ma'rifat Ilahi)nya akan meningkat. Dari pengenalan meningkat menjadi keyakinan, dari keyakinan meningkat menjadi cinta, dan dengan cinta akan tercapai pembebasan dari setiap dosa dan pemutusan dengan segala sesuatu selain Allah.


Bila seseorang mencapai keinginan-keinginannya, tetapi dia jauh dan terpisah dari Allah Ta'ala, maka semua keinginan itu hasil akhirnya penyesalan. Semua tujuan yang dibanggakan akhirnya menjadi ruang penyesalan.

Semua kesenangan dunia akhirnya akan tergantikan dengan kesedihan. Semua kenyamanan dan ketenangan akan berubah menjadi kesedihan dan rasa sakit. Tetapi penglihatan ruhani dan pengenalan Ilahi yang manusia peroleh dari doa, dan kenikmatan yang diperoleh dari khazanah langit pada saat berdoa, tidak akan pernah kurang dan tidak akan hilang. Sebaliknya, dengan doa manusia setiap hari meningkat ma'rifat dan cinta Ilahinya dan melalui tangga doa manusia akan naik ke surga.

(Ayyamus Sulh, hlm. 13-14).

Kamis, 02 Desember 2021

Empat Keunggulan Wali Allah (2)

 


Kedua, pemimpin para wali dan orang-orang terpilih memperoleh pemahaman dan pengetahuan Al-Quran yang tinggi.

Perlu diingat, ada ajaran Quran Syarif yang rendah, yang sedang atau rata-rata, dan yang tinggi. Ajaran yang tinggi berlimpah dengan cahaya pengetahuan, cahaya kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati, yang sama sekali tidak bisa dijangkau oleh orang yang memilki kemampuan rendah atau sedang. Hanya pemilik sifat yang sangat luhur, pemilik fitrah yang suci, yang sifat atau wataknya penuh cahaya dan menarik cahaya ke arah dirinya, yang bisa mencapai kebenaran-kebenaran itu.


Ketiga, para wali besar mencapai derajat _syahadat_(menjadi saksi iman). Derajat _syahadat_ berarti, derajat ketika manusia dengan kekuatan imannya sangat percaya kepada Tuhannya dan Hari Pembalasan, sehingga seolah-olah dia melihat Tuhan dengan matanya sendiri. Kemudian dengan berkah keyakinan itu, kepahitan untuk melakukan perbuatan baik menjadi lenyap, setiap takdir yang ditetapkan Allah Ta'ala terasa manis seperti madu di hatinya, dan setiap cobaan atau penderitaan dilihat olehnya sebagai hadiah.

Oleh karena itu, _syahid_ adalah orang yang karena kekuatan imannya, dia (seolah-olah) melihat Tuhan. Dia merasakan pahitnya takdir Ilahi seperti menikmati manisnya madu. Derajat ini sebagai tanda untuk orang beriman yang sempurna.


Keempat, para wali yang sempurna dan orang-orang terpilih mencapai derajat _shalihin_ sepenuhnya. Seseorang disebut _shalih_ ketika batinnya bersih dari semua kejahatan. Dengan pembersihan semua hal yang kotor dan busuk itu, bisa dicapai puncak kenikmatan ibadah dan zikir Ilahi.

Sebagaimana karena penyakit jasmani, rasa dan kelezatan di lidah menjadi rusak. Demikian juga karena penyakit ruhani, rasa dan kelezatan dalam ruhani menjadi rusak pula.

Seseorang yang mengidap penyakit ruhani tidak bisa merasakan kenikmatan dalam beribadah dan zikir Ilahi. Dia juga tidak punya antusiasme, semangat atau dorongan untuk itu.

Sebaliknya, manusia sempurna (insan kamil) tidak hanya suci dari kekotoran dan kejahatan, bahkan kesucian dan kemampuannya banyak berkembang sehingga muncul tanda dan keajaiban di dalamnya.

Singkatnya, inilah empat level keunggulan (wali Allah), setiap orang beriman wajib berusaha untuk mencapainya. Itulah sebabnya di dalam surat Al-Fatihah Allah Ta'ala telah menetapkan doa bagi umat Islam, agar dengan doa itu mereka memohon empat keunggulan kepada-Nya. 

Doa itu sebagai berikut:


اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ - صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْھِمْ -


"Pimpinlah kami pada jalan yang benar. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat." 

(Al-Fatihah, 1:5-6).


Ayat ini telah dijelaskan di tempat lain dalam Quran Syarif (4:69). Yang dimaksud orang-orang yang telah diberi kenikmatan oleh Allah adalah para nabi, shiddiq (orang tulus), syahid (orang setia) dan shalih (orang saleh). Manusia sempurna (insan kamil) memiliki kombinasi keempat keunggulan itu dalam dirinya.

(Tiryaqul Qulub, hlm. 247-250).